Sabtu, 25 Oktober 2008

WAJAH BARU-PEJUANG BARU

" Berharap Lebih Baik Melalui Pejuang Baru"

Kesibukan suksesi di beberapa lembaga kemahasiswaan (LK) belum lama ini (khususnya di Unila), sampai pada titik penyelesaian. Hal ini disusul oleh munculnya para pemimpin terpilih dimasing-masing lembaga kemahasiswaan. Masing-masing pemimpin itu memiliki corak dan latar belakang yang berbeda, yang mencirikan lembaga kemahasiswaan yang akan dipimpinya dalam satu periode kepengurusan kedepan. Harapan besar bagi mereka sebelum memimpin adalah 'semoga saja bekal yang dipersiapkan untuk memimpin kedepan lebih dari cukup atau minimal cukup', sehingga hasilnyapun akan baik.
Sebagai pemimpin baru yang berjuang dalam kepengurusan mendatang, agar sampai pada tujuan organisasi yang telah ditetapkan dengan baik, dan juga agar bekal yang dimiliki jangan sampai berlebihan (sebab kalau berlebihan bisa basi dan mubazir) atau kekurangan bekal, yang akhirnya bisa menimbulkan permasalahan baru dikemudian hari, maka perlu adanya penelaahan dan pengkajian ulang terhadap bekal-bekal yang dipersiapkan, karena mereka adalah wajah baru yang akan memberikan corak wajah baru bagi lembaga yang akan dipimpinya dengan bekal masing-masing.
Bagaimana gambaran wajah kemahasiswaan _khususnya gerakan mahasiswa dan kampus itu sendiri_ dalam satu periode kedepan? Selain peran kebijakan Universitas dalam membentuk wajah ini, peran mahasiswa sangat penting dan tidak dapat dipishkan. Polesan-polesan tangan birokrasi kampus tidak akan membekas dan indah, apabila tidak disambut oleh tangan-tangan mahasiswa menggosok dan mengibaskan debu yang menempel, menghaluskan, dan meratakan bagian-bagian yang polesan yang belum rata. Tapi, sanggupkah mahasiswa mengoptimalkan peran itu? Sedangkan pihak birokrasi yang terkadang tidak mau memberi tahu polesan seperti apa yang sedang kerjakan. Selain potensi akademik yang perlu senantiasa ditingkatkan, potensi peran dan kontribusi mahasiswa terhadap wajah lingkungan sekitar, atau bahkan terhadap diri mahasiswa juga perlu digali dan ditingkatkan guna menghasilkan kualitas kampus yang lebih baik. Dalam ranah potensi-potensi inilah keberadaan lembaga kemahasiswaan setidaknya dapat mengoptimalkan peran dan fungsinya. Selanjutnya mahasiswa dan pihak birokrasi kampus hendaknya memiliki kesadaran akan hal itu, dan mau berbuat sesuatu agar terjadi keselarasan gerak dan saling mendukung antar satu sama lain.
Untuk memberikan kontribusi dalam upaya perbaikan dan memajukan kampus kedepan, setidaknya pihak birokrasi kampus dan lembaga kemahasiswaan harus memiliki persiapan bekal yang cukup.
yang pertama, sadar dan faham dengan kondisi kampus, karakteristik, potensi, sistem, kekurangan, kelebihan, kemampuan, peran dan fungsinya dalam membentuk wajah kampus. Kira-kira adakah orang-orang yang duduk di jajaran birokrasi kampus yang tidak sadar dan tidak faham dengan kampusnya? Kalau memang terjadi, bagaimana dia bisa terpilih? Atau adakah lembaga kemahasiswaan yang juga tidak sadar dan faham hal itu juga? Mau seperti apa wajah kampus kalau seperti itu. Ada beberapa indikasi yang menunjukkan ketidaksadaran dan ketidakfahaman kedua kompoenen central kampus ini, dan yang paling utama adalah terlihat adanya ketidakjelasan gerak kampus mau dibawa kemana kampus ini? Atau hanya mengikuti apa kata mereka yang 'mengikuti kemana waktu memebawa hidup ini'?
Kesadaran dan kefahaman, menjadi sangat penting karena dengan bekal ini, semua komponen kampus tidak bingung dalam menentukan arah lemabaga yang dipimpinya, menentukan program kerja yang akan dijalankan, mengefektifkan kinerjanya, serta memiliki tujuan yang jelas dalam memajukan kampus.
bekal selanjutnya adalah kemauan, karena hanya dengan kemauan semua akan terlaksana.....

banner
Previous Post
First

0 komentar:

Follow by Email

Popular Posts