Senin, 22 Februari 2010

Islam, Pemuda dan Perdagangan bebas Asia Cina Asia Cina Fre trade agreement ( ACFTA )

Zaman terus berubah, sejarah terus mencatat peristiwa-peristiwa yang terjadi di muka bumi, waktu terus bergulir meninggalkan masa lalu. Pada abad sekarang ini terlihat beradaban baru telah mulai nampak di belahan bumi dengan berbagai ciri khas dan fenomena cara kemunculannya. Fenomena pergeseran kekuatan basis perekonomian internasional juga telah nampak dari kawasan Amerika dan Eropa begeser ke kawasan Asia , disamping meningkatnya penguatan ideology di beberapa kawasan Asia. Hipotesis Hutington yang membicarakan benturan peradaban antara Eropa-Amerika (barat) dengan Asia (timur), mulai terbukti tanda-tanda kemungkinannya. Hipotesis yang menganalisis akan adanya beturan peradaban antara barat dengan timur, yang terkhusus dari sisi budaya kini mulai terasa. Dan saat ini yang paling menggejala adalah masalah perekonomian menyusul ambruknya perekonomuan USA akhir-akhir ini. Eropa-Amerika kini secara internal mengalami kemerosotan yang luar biasa di bidang politik, ekonomi, maupun militer. Barat kini dihadapkan pada persoalan pertumbuhan ekonomi yang lamban, populasi yang stagnan, pengangguran, defisit negara yang sangat besar, kemerosotan etika kerja, tingkat pendapatan masyarakat yang rendah, dan di berbagai wilayah, termasuk USA, terjadi disintegrasi sosial, meningkatnya jumlah penggunaan obat-obatan terlarang, dan berbagai bentuk kejahatan. Maka kini terlihat pergersaran kekuatan itu kea rah timur.


Kini, Asia-Cina sebagai salah satu bentuk peradaban baru mulai bangkit memainkan perannya, salah satunya mulai terlihat dalam kancah perekonmian dunia. Dengan basis ekonomi Cina yang mulai mapan dan menguatnya tingkat pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia membuat Negara-negara di kawasan ini berfikir untuk menyatukan kekuatan ekonomi, yang kini terlihat dengan nota kesefahaman tentang perdaganan bebas di Asia (ACFTA/Asia Cina Free Trade Agreement). Perdaganan yang bebas dari pemungutan pajak dan tidak tersekat-sekat oleh teritoial sebuah Negara akan menjadi fenomena baru di kawasan Asia. Perdagangan bebas antar kawasan se Asia sebagai bentuk system perdagangan baru yang kini telah disepakati akan mendominasi aktifitas perekonomian antar Negara se Asia. Bagaimana tidak? Kehidupan masyarakat tidak terlepas dengan aktivitas ekonomi, seluruh sendi kehidupan manusia sangat berkaitan dengan ekonomi. Mulai dari makan-minum seorang anak kecil sampai social politik sebuah Negara. Kini pertanyaanya adalah apakah perdagangan bebas dengan segala kelebihan dan dampak negatifnya akan mampu membawa Asia menjadi peradaban baru yang mapan di dinia? Lalau bagaimanapula kebangkitan Islam yang kini mulai namapak dengan adanya perdangan bebas ini? Akan semakin bangkit ataukah menjadi menurun atau bahkan hilang? Mampukah kaum muda muslim memainkan perannya dalam mengawal dan mengarahkan perdagangan bebas ini dalam kaitannya dengan kebangkitan Isalam di muka bumi?
Wacana penolakan tentang perdaganan bebas Cina-Asia banyak terjadi di mana-mana, khusunya di Negara-negara berkembang yang merasa belum siap dengan perdaganan bebas dan khawatir dampak negatifnya akan merusak perekonomian negeranya dan membuat masyarakatnya menderita. Namun disisi lain dukungan untuk segera merealisasikan system perdangan ini juga muncul di mana-mana di berbagai kalangan dan Negara-negara dengan harapan optimisme kebangkitan ekonomi Asia dan keuntungan berbagai Negara. Seperti di Indonesia, banyak kalangan yang mulai berbicara masalah ACFTA, ada yang menolak dan ada pula yang mendukung. Pihak pemerintah Indonesia sepertinya dalam posisi mendukung di berlakukannya pasar bebas yang tahun 2010 ini mulai berlaku, hal ini terlihat dengan penjelasan yang di sampaikan oleh wakil menteri perdagangan Mahendra Siregar (6/1). Namun beberapa elemen masyarakat terlihat menolak system ini. Di Jawa Barat ribuan buruh berdemo menolak ACFTA (6/1), ditjen bea dan cukai cenderung berpendapat lebih banyak merugikan dari pada menguntungkan, sedangkan para pengusaha banyak yang mendukung untuk keuntungan bisnisnya. Begitupula rakyat Indonesia yang cenderung konsumtif, ada yang menyambut dengan baik namun ada pula yang khawatir. Para pengusaha dalam negeri cenderung banyak memiliki kekhawatiran akan produknya yang kalah bersaing dengan produk asing, terutama produk tekstil, alat rumah tangga, elektronik, makanan dan minuman, juga pertanian seperti pupuk dan obat-obatan pertanian.
Terlepas dari kontropersi diberlakukannya pasar bebas baik di Indonesia maupun di beberapa Negara di Asia, yang jelas pemerintah mempunyai tanggungjawab penuh untuk menyelesaikan permasalahan yang ada dan akan terjadi. Karena perdagangan bebas kalau dilihat pada perkembangan zaman sekarang ini sudah tidak bisa di elakkan lagi. Oleh karenanya pengawalan terhadap pemerintah sebagai pemegang kebijakan sangat penting untuk dilakukan secara konsisten dan kontunyu agar harapan mapannya perekonomian di Asia dengan perdangan bebas ini mampu tercapai dan mensejahterakan rakyat, tidak kemudian malah menyengsarakan rakyat dan hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu. Hubungan diplomasi antar Negara se Asia harus mampu menjadi wahana pengambil kebijakan ketika suatu saat system perdagangan ini berakibat fatal bagi salah satu negara atau banyak negara di Asia. Kesiapan masyarakat, produk-produk local, kondisi politik, kekuatan hubungan diplomasi, dan kekuatan pilar ekonomi dalam negeri menjadi catatan penting bagi pemerintah berbagai negara di Asia dalam merealisasikan perdagangan bebas dengan terus mengantisifasi dampak buruk yang akan terjadi di masyarakat. Namun jika suatu negara tidak dalam posisi siap melakukan perdagangan bebas, maka jangan sekali-kali negara menerapkan perdangan bebas, Karen bisa berdampak sangat buruk bagi rakyat.
Islam sebagai pemegang ideology paling mapan di dunia ini, dengan konsep syumuliatul islam yang integral di seluruh aspek kehidupan harus mampu membingkai perkembangan ekonomi dewasa ini. Penerapan system pasar bebas di Asia menjadi tantangan tersendiri bagi kebangkitan Islam. Islam dengan konsep ekonomi syariahnya harus mampu bersaing dan menyesuakan diri dengan kondisi saat ini. Bagaimanakah Islam mengahapi hal ini? Islam memiliki konsep syari’ah tanpa ada unsure ribawi, apapun bentuk perdangan yang diterapkan, asalkan secara hukum syara tidak bertentangan maka Islam bisa ikut berperan didalamnya. Dalam perdagangan bebas ini sesungguhnya ummat Islam memiliki peluang untuk mengembangkan system ekonominya, dan saling menguatkan antar sesama muslim. Bukankah selama ini produk-produk ciptaan masyarakat muslim sangat sulit untuk didistribusikan ke berbagai negara yang lainnya agar sampai kepada saudaranya sesama muslim di seluruh kawasan? Bahkan mungkin dengan perdagangan bebas ini ummat muslim memiliki peluang untuk memasarkan produknya dan bersaing denga produk lain yang sesungguhnya juga cukup memiliki kualitas yang bagus. Produk-produk Islam yang dulu tidak pernah ada karena sulitnya distribusi kemudian bisa menyebar dan bersaing dengan produk-produk barat. Dan tentunya keuntungan produk muslim itu akan diperuntukkan untuk kemajuan Islam, minimal untuk menghidupi kebutuhan sesama muslim. Akan tetapi diberlakukannya pasar bebas di Asia harus mampu menjadi pendorong pengusaha-pengusaha muslim untuk meningkatkan produktifitas barang-barang dagangannya, melakukan distribusi dan sosialisasi yang massif keseluruh kawasan Asia. Bahkan mungkin perlu adanya kampanye khusus meggunakan produk Islam yang terjamin kebaikannya dan kegunaan hasil penjualannya untuk kebangkitan Islam. Para pengusaha muslim harus saling bahu membahu dan menguatkan untuk kelancaran usaha.
Ada hal lain yang masih sangat erat kaitannya dengan penjualan barang dan ummat muslim. Yaitu kehalalan barang atau makanan dan minuman yang dipasarkan. Dengan adanya pasarbebas maka produk-produk haram maupun haram akan sangat mudah sekali masuk ke berbagai kawasan berpenduduk muslim. Hal ini harus diwaspadai khususnya makanan dan minuman yang haram. Oleh karenanya pihak-pihak yang memiliki wewenang menangani hal itu harus sangat selektif dan teliti serta konsisten mengingatkan dan mengarahkan ummat agar tidak terjerumus mengkonsumsi barang yang haram. Contohnya di Indonesia, ada MUI (majelis Ulama Indonesia) yang harus aktif dan intensif memantau hal ini, agar seluruh ummat muslim di Indonesia terjaga dari barang haram. Seperti itu pula mungkin lembaga-lembaga penentu kebijakan syari’ah Islam di berbagai Negara Islam juga harus saling pro aktif bekerja sama dalam masalah ini.
Peran pemuda muslim
Pemuda muslim sebagai pilar utama kebangkitan Islam harus mampu menempatkan dirinya pada posisi yang strategis dalam menyikapi hal ini. Penguatan basis pemahaman keislaman yang mapan harus terus ditanamkan untuk membingkai aktifitas kehidupannya, termasuk dalam menyikapi masalah ekonomi dan perdangan bebas. Gerakan kaum muda muslim Asia yang sesunggunya sedikit banyak memiliki peran signifikan terhadap kebijakan perdangan bebas harus mampu mengarahkan dan mendorong piha-pihak penentu kebijakan agar perdangan bebas ini tidak menyengsarakan ummat. Sikap kritis dan rasa persaudaraan sesama muslim di berbagai negara harus terus dibangun untuk saling menanggung beban satu sama lain. Ketika dampak pasar bebas mengganggu salah satu negara yang berpenduduk muslim, maka gerakan pemuda muslim harus menjadi pendorong yang progresif kepada pemerintah untuk segera menyelesaikan permasalahan tersebut. Meskipun disatu sisi harus pula memberikan solusi atas permasalahan yang timbul.
Pemuda muslim Asia harus terus belajar dan meningkatkan kapasitas, serta kratifitasnya mencipta produk-produk Islam baru yang kedepan mampu bersaing dengan baik dengan produk produk non muslim,sehingga kebangkitan Islam tidak hanya dimulai dari tataran sosial politik, namun juga ditataran perekonomian dengan produk-produk yang dihasilkan.
Sesungguhnya ummat muslim tidak harus menciptakan produk baru atau menghasilkan produk baru karena sesungguhnya produk-produk kebutuhan hidup telah cukup banyak di Asia, namun bagaimana ummat muslim mampu mengelola dan mengarahkan hasilnya untuk kebermanfaatan ummat manusia dan tidak merugikan yang lain serta tidak dalam rangka menghancurkan ummat muslim itu sendiri. Hal itulah yang kemudian harus didorong oleh gerakan pemuda muslim untuk menumbuhkan semangat produktifitas masyarakat muslim di berbagai negara, memberikan solusi dan turut melindungi ummat muslim.
Sudah saatnya Islam bangkit menciptakan momentumnya, mulai dari gerakan kaum muda muslimnya. Ketika para orang tua di OKI tidak mampu membuat kesepakatan dan kebijakan dalam melindungi ummat muslim, maka sudah saatnya para pemuda muslim bersatu dan menguatkan untuk bergerak melindungi dan mensejahterakan ummat muslim, karena sesungguhnya yang tua akan segera digantikan oleh yang muda. Oleh karenanya yang muda harus bersatu dalam satu visi kebangkitan Islam dan siap menciptakan momentum kebangkitan Islam.


banner
Previous Post
Next Post

0 komentar:

Follow by Email

Popular Posts