Selasa, 09 Februari 2010

"Belajar Menulis Tentang Hidup dan Perjuangan"

Tak tau apa yang ada dibenak ini, rasanya tangan ini ingin bisa menulis sesuatu. Tentang apapun. Tentang sahabat, tentang hidup, tentang perjuangan, tentang pengorbanan dan apapun yang bisa dikeluarkan dari dalam benak ini. Keresahan mengenai hidup dan kondisi di lingkungan sekitar menjadikan diri ini resah dalam hidup sehingga merasa ingin menulis sesuatu. Namun diri ini tidak tau bagaimana caara menulis sebagai ungkapan semua ini, terlalu banyak hal yang menjejali kepala ini sehingga sulit untuk keluar dengan teratur bahkan mereka cenderung ingin keluar bersamaan, mencurah begitu saja, akan tetapi yang menjadi permaslahan adalah diri ini tidak tau bagaimana cara mencurahkannya. Kehidupan kampus dengan mahasiswa yang apatis membuat diri ini tetap dalam kesendirian dengan beban dibenak ini yang seolah-olah mendesak terus ingin keluar.

Kuawali tulisan ini dengan belajar menulis tentang ' hidup dan perjuangan' karena mungkin topik ini yang agak memberikan representasi tentang kondisi psikologis saat ini.


Sabtu, 17 Januari '09, di pagi yang agak mendung tiba-tiba muncul suatu pikiran dalam kesendirian diri ini, yang pada akhirnya lahirlah sebuah pengertian tentang hidup dan perjuangan yang dirangkum dalam sebuah kata-kata “Hidup dan perjuangan itu, bagaikan seorang perambah hutan yang masuk kehutan yang penuh onak duri dan binatang buas. Semakin ke dalam ia masuk ke dalam hutan belantara maka semakin diketahuinya bahwa hutan ini begitu lebat dan semakin gelap, serta binatangnya semakin ganas, bahkan saking gelapnya hampir-hampir tak ada seberkas cahaya pun untuk membantunya melangkah, oleh karena itu sang perambah hutan harus berusaha mengeluarkan cahaya itu dari dalam dirinya, yang kan menyinari setiap langkahnya, dan menyinari sekelilingnya, agar ia bisa melangkah dan menyusuri hutan belantara ini dengan selamat dan mendapatkan apa yang ia inginkan setelah keluar dari hutan belantara ini”.
Sejenak kalimat-kalimat ini bergelayutan di benak ini, apa benar kondisi hidup dan perjungan seperti ini? Namun apapun itu, benar ataupun salah, itulah curahan yang ada di benak ini, biarlah ia keluar dan turun dari benak ini dalam kesendirian, dalam pemaknaan perjuangan hidup. Akan tetapi tiba-tiba ada sebuah nasehat dari seorang saudara yang ternyata sangat berkaitan dengan makna yang terkandung dalam kalimat ini, namun nasehat saudara ini lebih memotivasi dalam menyikapi perjuangan dan hidup, ia katakan “Melangkah ke alam perjuangan berarti rela dalam kepahitan..biarlah diri menangis..terluka..kecewa dan menderita, asalkan semua itu tetap berada di jalan Allah SWT, dari pada mati tanpa Mujahadah. Kita tidak sanggup selamanya terluka dan menderita, tapi ingatlah setiap tetes darah dari luka dan air mata, itulah mahar kita ke surga-Nya. Kenapa perjuangan itu pahit? Karena surga itu manis..jawabnya. Teruslah berjuang, hingga Allah memberi pelita terang sebagai petunjuk di rimba yang gelap.”
Dengan adanya kalimat nasehat dari saudara ini, maka ternyata diri ini merasa benar-benar telah menyusuri hutan yang gelap dan pekat yang harus rela dalam kepahitan, luka, duka, lara dan pengorbanan lainnya. Diri ini harus siap dengan semua itu, karena alam hutan perjuangan itu sudah membentang luas di hadapan yang terlihat begitu kelam dan hitam, tak tau apa yang kan terjadi kemudian.
Sebenarnya yang diri ini maksud dengan cahaya di dalam hutan belantara adalah harapan. Harapan yang kan memberikan energi, memberikan motivasi, memberikan apresiasi atas jalan di belakang yang telah ditempuh. Tak peduli harapan itu datang dari mana, apakah dari daun yang tiba-tiba menampar muka, dari ranting yang patah terinjak ataupun dari dahan pohon yang tinggi menjulang, dari suara-suara binatang hutan, dari tanah tempat berpijak atau bahkan dari terpaan angin kewajah sekalipun. Namun harapan yang harus dikeluarkan oleh sang perambah hutan adalah harapan dari dalam diri sendiri, terhadap diri sendiri dan dihasilkan dari dalam diri. Karena harapan dari luar itu gelap... selain harapan kepada ALLAH SWT yang masuk kedalam diri lewat petunjuk-Nya. Karena sesungguhnya Dia sangat sayang kepada setiap orang yang melalui hutan rimba ini dengan sabar dan menempuh jalan yang lurus. Sabar dan istiqomah.”Jadikanlah sabar dan Sholat sebagai penolongmu”
Harapan itu kan selalu ada..itulah sumber harapan dari dalam diri seorang pejuang.
Apalagi dengan adanya balasan yang kan didapatkan setelah keluar dari hutan belantara ini yang sesungguhnya tidak begitu luas, hanya sekedar lewat dan mampir sebentar...taman-taman yang luas dan terang lagi indahlah tempat yang sesungguhnya, yang takkan habis untuk dijelajahi dan banyak hal yang baru yang takkan mungkin ditemuai di dalam hutan rimba yang gelap..
Selamat menuai harapan, itu yang akhirnya keluar dari dalam benak ini setelah curahan tentang hidup dan perjuangan sedikit banyak telah keluar..
ALLOH GHOYATUNNA.


banner
Previous Post
Next Post

0 komentar:

Follow by Email

Popular Posts