Senin, 29 Maret 2010

Birokrat Kampus Mati Rasa

Sudah hampir 3 bulan perkuliahan mahasiswa berlangsung di Unila, bahkan sebagian dosen telah memberikan ancang-ancang kepada mahasiswa untuk siap-siap menghadapi ujian tengah semester, namun cukup ironis apabila melihat proses penyelenggaraan perkuliahan di beberapa fakultas di kampus hajau ini. Baru – baru ini buletin mahaiswa Unila Teknokra (edisi 21 Februari-20 Maret 2009) menghadirkan berita fenomena perkuliahan di FKIP, tepatnya di PMIPA, yang mahasiswanya mengikuti perkuliahan di luar ruangan, mahasiswa berjubelan memenuhi ruang kuliah yang panas dan pengap di tambah lagi sebagian mahasiswa mengikuti kuliah di luar rungan, hal ini dikarenakan jumlah mahasiswa yang mengikuti perkuliahan melebihi kapasitas. Timbul beberapa pertanyaan yang patut di jawab oleh pihak Universitas. Apakah Unila tidak mampu membangun gedung tambahan untuk memenuhi kapasitas ruang kuliah ?


Padahal pembayaran uang SPP, SOP,dan SIP cukup besar tahun ini (khususnya program mandiri). Kemanakah uang itu? Atau apakah dosen mata kuliah yang bersangkutan yang memaksakan kuliah dengan kondisi seperti ini? Padahal sebagai tenaga pendidik, para dosen jelas faham standar proses belajar mengajar yang efektif. Atau bahkan Jurusan /program studi pengelola jadwal perkuliahan yang tidak bisa mengatur jadwal kuliah dengan baik? Sehingga terjadi penggabungan kuliah antara mahasiswa yang seharusnya dipisah-pisah?

Ada lagi fenomena yang sungguh miris jika diamati, hal ini juga terjadi masih di lingkungan FKIP. Selama proses perkuliahan dalam waktu hampir tiga bulan ini, ternyata banyak ruangan kuliah yang kekurangan kursi, mahasiswa harus mengambil kursi-kursi diruangan lain untuk dipakai kuliah olehnya, padahal kursi diruangan yang diambil juga ada jadwal kuliah, sehingga terkesan mahasiswa 'menjarah' kursi-kursi kuliah mahasiswa lain yang juga akan kuliah, dan akhirnya ada perkuliahan yang dikorbankan. Bahkan ada dosen mata kuliah tertentu yang menyuruh mahasiswanya membawa tikar untuk mengikuti perkuliahan, “Kita kuliah ngampar saja”(begitu mungkin kata sang dosen). Kemudian setelah berulangkali kondisi kekurangan kursi ini terus dilaporkan ke pihak Fakultas, akhirnya kursi datang juga. Namun kondisi ini belum cukup mengetuk hati birokrat kampus, sehingga kursi ini harus di ambil sendiri dan diletakkan sendiri oleh mahasiswa yang akan menjalankan aktifitas perkuliahan, bukannya para petugas yang jelas-jelas sudah digaji Unila yang harusnya mengerjakan hal itu sehingga tidak mengurangi waktu pertemuan jam kuliah?..sungguh miris..apa kata mahasiswa di luar sana jika melihat kondisi Unila seperti ini? Apa presepsi partner-partner Unila? Apa kata para orang tua mahasiswa jika mengetahui anaknya kuliah dengan kondisi sedemikian rupa? Mungkin mereka akan mengira Unila tidak patut dipercaya, Unila tidak memiliki integritas yang patut diakui. Bagaimana tidak? Seharusnya kondisi seperti ini tidak perlu terjadi.

Seharusnya cukup sudah bekal ilmu para birokrat kampus yang mengelola kampus ini, dengan berbagai titel yang disandang berjejer-jejer, berderet-deret di belakang namanya. Titel tersebut seharusnya menjadi ajang pembuktian atas kapasitas mereka mengantisipasi permasalahan ini, menyelesaikan dengan segera. Namun ajang pembuktian seperti itu mana ada di kampus ini, bak 'keledai yang berjalan memanggul kitab-kitab tanpa tau isi kitab itu', itulah mungkin peribahasa yang pas bagi mereka-mereka yang terhormat. Kemanakah ilmu-ilmu yang dulu pernah dibanggakan menguap? Seharusnya para birokrat itu belajar dari tahun-tahun sebelumnya agar tidak terjadi hal seperti ini. Bahkan konon sudah ada perencanaan jangka panjang untuk Unila kedepan sampai tahun 2025, dengan visinya yang optimis di dendangkan oleh pak Rektor “Menjadi perguruan tinggi 10 terbaik di Indonesia”. Dimanakah perencanaan itu diterapkan? Kemanakah strategi-strategi yang dulu pernah diperdebatkan itu direalisasikan? Apakah hanya formalitas tertulis di atas kertas putih sebagai pelengkap perencanaan, agar dianggap 'sungguh perencanaan yang sempurna' oleh para stake holders? Bagaimana kualitas universitas ini menjadi baik dan unggulan sedangkan permasalahan-permasalahan seperti ini masih saja ada. Masih banyak permasalahan internal yang carut marut pengelolaannya. Seharusnya sebelum lepas landas, maka landasan terbang dan segala persiapan terbang tidak ada kendala lagi. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika optimisme pak Rektor disambut pesimisme mahasiswa, dan sebagian birokrat yang lain. Jangan salahkan jika realita kondisi kampus ini menjadi awal pesemisime beberapa kalangan kampus, sehingga banyak kalangan (khususnya mahasiswa) yang menolak BHPT di Unila sebagai bentuk komersialisasi kampus, yang karena ke-ngeyelan birokrat kampus untuk diterapkan, menyebabkan 'birokrat kampus mati rasa', mati persaan dan hatinya, serta tidak memiliki kepekaan rasa kemanusiaan terhadap pendidikan rakyat miskin. Sungguh sangat ironis.

banner
Previous Post
Next Post

0 komentar:

Follow by Email

Popular Posts