Senin, 29 Maret 2010

Budaya Intelek Elemen Kampus

Hilir mudik terlihat elemen kampus sedang menjalankan aktivitasnya, kesibukan-kesibukan yang menjadi rutinitas seolah menyatu dalam setiap gerak dan bahasa tubuh komunitas intelek ini. Kesibukan merupakan gambaran kesungguhan elemen ini dalam beraktivitas demi sebuah mimpi, cita-cita dan harapan-harapan. Mimpi, cita-cita dan harapan-harapan yang menjelma ke dalam bentuk aktifitas intelek masyarakat kampus, menjadikan kampus ini serasa hidup dan berkembang sesuai arahan aktor para perancang intelektual kampus yang profesional dan konsisten dalam menjalankan rancangannya, konsisten membawa dan menjaga nilai-nilai yang harus selalu ada dalam setiap gerak kehidupan kampus. Nilai-nilai Tri Darma Perguruan Tinggi.



Budaya intelek elemen kampus bisa dilihat dari berbagai sisi. Sisi yang pertama tentunya dari kalangan mahasiswa yang menjadi central adanya masyarakat kampus. Mahasiswa menjalankan peran intelektualitasnya dengan menjalankan perkuliahan secara baik dan sesuai kurikulum yang ditetapkan oleh pihak universitas, mengadakan diskusi-diskusi kritis mengenai berbagai disiplin ilmu, mengkaji berbagai macam teori, seminar, bimbingan, lokakarya, ujian dan segala hal yang menyangkut peningkatan kapasitas keilmuan yang digeluti, mengikuti kegiatan-kegiatan kemahasiswaan serta menjalankan fungsi kontrol universitas sampai pada menjaga budaya moralitas bangsa melalui penanaman nilai-nilai moral pada setiap diri mahasiswa. Mahasiswa menjalankan peran intelektualitasnya dengan mengedepankan kebiasaan disiplin, kebiasaan haus akan ilmu pengetahuan, kebiasaan menjaga moral dan kebiasaan-kebiasaan lain yang sesuai dengan perannya.
Sisi yang kedua bisa diperhatikan dari pihak dosen yang menjadi salah satu faktor pendukung tercapainya Tri Darma Perguruan Tingggi. Dosen memberikan materi perkuliahan, mengajak berdiskusi, mengisi kajian-kajian ilmu dan seminar, memberikan arahan dan bimbingan, memberikan tugas dan memberikan contoh, menyusun kurikulum, melakukan penelitian, mengadakan ujian dan lain sebagainya dalam rangka mencerdaskan mahasiswa serta meluluskan mahasiswa. Apa bila digabungkan antara dosen dan mahasiswa berserta ilmu yang sedang digali, maka kampus ini sungguh bertaburan ilmu yang menyebar ke seluruh penjuru kampus ini, mulai dari sudut-sudut ruangan kuliah, di bawah-bawah pohon, di perpustakaan sampai di pinggir-pinggir jalan dimana dosen dan mahasiswa mengolah dan mengembangkan ilmu pengetahuannya. Ilmu itu membumbung ke atap-atap bangunan dan menyelimuti seluruh kampus ini dengan hawa khasnya sehingga penghuni kampus ini hidup dengan ilmu.
Sisi ketiga adalah para birokrat kampus yang mengelola kampus dengan kekhasan intelektualitasnya yang unik. Para birokrat ini memainkan pola managemen yang profesional, merancang masa depan kampus, menjalankan administrasi yang baik, menjaga kredibilitas moral, menerapkan transaparansi di segala hal, dan meningkatkan seluruh peran masyarakat kampus dalam rangka pembangunan, evaluasi dan pengontrolan atas segala aktivitas masyarakat kampus, serta menerapkan kebijakan-kebijakan kampus yang menguntungkan bagi seluruh civitas akademika dan masyarakat luas.
Sisi yang keempat yaitu para pekerja dan staf-staf di lingkungan kampus yang mengungkapkan peran intelektualitasnya dengan cara pelaksanaan kerja-kerja yang rapi, pelayanan yang baik, disiplin, patuh dan hasil-hasil yang memuaskan demi terdukungnya keberjalanan roda pengelolaan kampus. Tanpa mereka, segala mekanisme yang akan diterapkan di kampus ini tidak akan berjalan dengan baik, atau bahkan tidak akan mungkin bisa dilakukan.
Sisi yang kelima, yang tidak kalah pentingnya dengan sisi yang lain adalah sistem yang diterapkan dalam pengelolaan kampus ini. Tingkat ‘intelektualitas’ sistem ini bisa dilihat dari berjalannya sisi-sisi yang telah disebutkan diatas dengan baik, yang kemudian menghasilkan output yang sesuai dengan kebutuhan zaman, sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan oleh khalayak, baik pemerintah, universitas, maupun lingkungan dan masyarakat sekitar. Seluruh mekanisme dalam sistem ini harus mampu dijalankan oleh seluruh civitas akademika agar tujuan tercapai. Apakah itu dimulai dengan menerapkannya pada input, kemudian transformasi dan output universitas serta hal-hal lain yang beririsan dengan sistem itu sendiri. Sistem memberikan peran yang cukup signifikan sesuai dengan pelaku-pelaku di dalam sistem tersebut.
Yang menjadi pertanyaan adalah apakah semua sisi di kampus ini telah menjalankan fungsinya masing-masing dengan baik? Apakah budaya intelektualitas itu sedang/sudah berjalan sebagaimana mestinya? Bukan bermaksud menggugat kondisi itu semua namun sepertinya seluruh elemen kampus ini perlu berhenti sejenak dan mengevaluasi hal itu, menilai dan memahami kondisi realita kampus. Kemudian menyimpulkan apa yang sedang terjadi, merancang solusi-solusi dan menjalankan langkah-langkah strategis terhadap kondisi kampus, atau bahkan merekonstruksi kembali seluruh mesin penggerak kampus. Hal itu perlu dilakukan demi kebaikan kampus, integritas kampus, masyarakat, bangsa dan negara. Karena kampus mempunyai peran hajad hidup orang banyak, terutama masyarakat sekitar, demi kemajuan bangsa dan negara. Oleh karena itu, gambaran idealisme peran budaya intelektualitas kampus jangan hanya menjadi sebuah gagasan atau ide dan konsep semata, namun perlu realisasi yang kongkret di berbagai sisinya yang dijalankan oleh seluruh elemen kampus.

banner
Previous Post
Next Post

0 komentar:

Follow by Email

Popular Posts