Sabtu, 14 Juli 2012

Yang Paling Dekat dan Yang Paling Jauh


Pada suatu ketika Imam Al Ghozali sedang mengajar bertanya kepada murid-muridnya, “Wahai anak-anaku apakah yang paling dekat menurut kalian?”, sebagian murid-muridnyapun ada yang menjawab bahwa yang paling dekat itu adalah istri, setiap hari dan setiap malam mereka berkumpul dan bertemu dalam satu rumah , sebagian yang lain ada yang menjawab bahwa yang paling dekat itu adalah ibu, ada yang menjawab bapak, karena mereka hidup serumah dengan kedua orang tuanya. Kemudian Imam Al Ghozali berkata, “jawaban kalian betul, akan tetapi belumlah tepat, sesungguhnya yang paling dekat dalam hidup ini adalah kematian, dia selalu mengikutimu meskipun engkau pergi kemana saja, jikalau istri, ibu, bapak telah meninggal dunia maka kalian akan terpisah dengan mereka, mereka berada di dalam kuburan sedangkan engkau akan tinggal di rumah, akan tetapi kematian tidaklah pernah terpisah sebelum kematian itu terlaksana pada dirimu dan engkau tidak mengetahui kapan dia tiba, setiap detik kematian itu terus ada disisimu.”
Kemudian Imam Al Ghozali bertanya lagi kepada murid-muridnya, “apakah yang paling jauh menurut kalian?” Sebagian murid menjawab bahwa yang paling jauh itu adalah negeri Cina, sebagian lagi menjawab puncak gunung yang tinggi, sebagian yang lain menjawab ujung bumi di kutub utara dan selatan. Mendengar jawaban-jawaban ini Imam Al Ghozalipun berkata, “Negeri Cina akan dapat dikunjungi, puncak gunung akan dapat didaki, dan ujung dunia di kutub utara dan selatanpun akan dapat di tercapai pada suatu saat nanti jika kalian menempuh perjalanan menujunya, namun sesungguhnya yang paling jauh dari kalian adalah hari kemarin, kalian tidak akan pernah dapat mencapainya walaupun bagaimanapun usaha kalian berbuat, masa lalu tidak akan pernah kembali dan tidak akan pernah bisa dikunjungi, itulah sesuatu yang paling jauh dari dirimu.”

Demikianlah saudaraku, bahwa sesuatu yang paling dekat dengan kita adalah kematian dan sesuatu yang paling jauh dari kita adalah hari kemarin, kematian dan hari kemudian adalah masa depan yang dekat dan hari kemarin adalah masa lalu yang akan terus menjauh dan semakin jauh tak kan pernah terkunjungi lagi, sehingga dengan demikian sadarlah kita tetang dua hal itu. Terhadap yang pertama, yakni kematian, maka kita segera menginstropeksi diri apakah yang telah kita persiapkan untuk bekal menghadapinya? Apa saja yang telah kita persiapkan untuk masa depan yang akan menjadi penentuan kehidupan abadi kita? Sehingga dengan instropeksi diri ini mari kita memperbanyak amal ibadah kepada Allah SWT, memperbanyak amal sholih untuk bekal pada saat maut itu menjemput kita, dan kita selalu berusaha terus dalam keadaan berbuat baik sehingga kematian kita dalam kondisi yang baik yakni khusnul khotimah.

Kemudian terhadap yang kedua, yakni hari kemarin dan masa lalu, mari kita juga mengevaluasi diri, betapa banyak dosa-dosa yang telah kita lakukan, apakah kita telah bertaubat atas setiap kesalahan yang telah kita lakukan? Satu demi satu? Sudahkah kita menghitung-hitung setiap kesalahan yang telah kita lakukan dan kemudian memohon ampun kepada Allah SWT atas kesalahan itu. Sudahkah kita pula menghitung berapa banyak saudara-saudara kita, umat manusia yang kita kenal maupun yang tidak kita kenal telah merasakan keburukan dari perilaku kita? Dari ucapan kasar dan menyakitkan yang keluar dari mulut kita? Dari tindakan yang tidak sepantasnya? Dan lain sebagainya, yang mungkin terkadang kita tidak menyadarinya? Marilah kita menghitung-hitung itu semua dan bersegera mengujungi saudara kita tersebut dan meminta maaf kapadanya, memenuhi kebutuhannya yang mungkin pernah kita abaikan atau mengembalikan hak yang mungkin pernah kita ambil tanpa kerelaannya. Tidakkah itu semua bisa kita segerakan? Masihkah terbersit di benak kita istilah nanti dulu, lain kali, atau belum sempat? Tidak takutkah engkau jika ternyata yang bersangkutan telah meninggal dunia atau diri kita sendiri yang tak terduga tiba-tiba jatuh tersungkur sebelum keluar sepatah kata maafpun dari lisan kita? Maka segeralah bertaubat kepada Allah dan kunjungi saudara kita tersebut, setidaknya segera telpon atau kirim SMS saudara kita tersebut dan sampaikan permohonan maaf yang tulus atas segala khilaf dan kesalah yang pernah dilakukan.

Karena saudaraku, jika kita belum sempat meminta maaf kepada orang yang pernah kita sakiti dan ternyata dia tidak rela/rihda atas apa yang kita lakukan terhadapnya sedangkan dia keburu meninggal dunia atau kita sendiri yang terlebih dahulu meninggal dunia, maka diakhirat kelak kita sungguh-sungguh akan menjadi orag-orang yang merugi, bangkrut sebangkrut-bangkrutnya. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW, tentang orang yang paling bangkrut di akhirat kelak yaitu orang yang memiliki paha amal perbuatan yang baik namun kemudian paha amal tersebut sedikit demi sedikit habis diminta oleh orang-orang yang tersakiti oleh kita ketika masih di dunia, kalau pahala amal kita tersebut sudah habis maka keburukan-keburukan orang-orang yang kita sakiti itulah yang akan ditimpakan kepada kita. Bukankah ini suatu kerugian yang tiada terkira? Kita sudah melakukan banyak kebaikan di dunia namun kemudian habis tiada berguna dan berganti menjadi tumpukan keburukan-keburukan saudara-saudara kita yang ditimpakan kepada kita, maka jadilah kita akhirnya menjadi penanggung keburukan dan dimasukkan kedalam neraka. Naudzubilah tsuma naudzubilah..kita berlindung kepada Allah dari peristiwa yang demikian, dan mari kita segera bertaubat dan memohon maaf kepada saudara-saudara kita atas kesalahan-kesalahan yang kita lakukan.

[Terinspirasi dari pengantar materi khutbah Jum’at di masjid Al-Oesman, Teluk; 13 juli 2012]
banner
Previous Post
Next Post

0 komentar:

Follow by Email

Popular Posts