Selasa, 22 Januari 2013

Renungan Menjelang Ramadhan




Menyikapi jihad yang dilakukan oleh para teroris di Indonesia.
(Tulisan ini telah diterbitkan di rubrik opini Lampung Post pada
Hari Jum’at tanggal 21 Agustus 2009)




Berbagai alasan dilontarkan oleh para teroris di Indonesia yang mengatas namakan jihad sebagai jalan juangnya untuk menghadapi Amerika dan sekutunya yang selama ini telah mencabik-cabik dunia Islam dan menjadikan Islam musuh yang harus dihancurkan karena Islam dianggap peradaban yang akan menghancurkan dan membuat hilang peradaban Barat dari altar sejarah dunia ini. Namun apa yang dilakukan para teroris di Indonesia yang melakukan serangkaian pengeboman di Indonesia sungguhlah sebuah usaha perlawanan kepada amerika dan antek-anteknya yang tidak tepat dan bahkan menghancurkan ummat Islam sendiri. Apabila jalan yang ditempuh oleh para teroris yang mengaku membela Islam dengan jihad yang sebenar-benarnya, maka perlu diperhatikan apakah motiv mereka itu memerangi Amerika dan antek-anteknya tepat dilakukan di Indonesia yang jumlah ummat Islamnya terbanyak di dunia. Jika setiap aksi perlawan kepada Amerika dilakukan di Indonesia berupa peledakan bom dan penghancuran pasilitas yang digunakan oleh warga Amerika atau pemerintahan Amerika di Indonesia maka tidak lain hanyalah menghancurkan dan sengaja membunuh ummat Islam itu sendiri.

Hal ini bisa dilihat dari korban yang banyak menderita adalah ummat Islam Indonesia yang tinggal di sekitar peledakan bom tersebut. Di sisi lain Negara Indonesia dengan jumlah pemeluk muslim terbesar menjadi tercemar namanya karena dituding sebagai sarang teroris di dunia sedangkan Indonesia memang benar-benar memiliki warga muslim terbesar di dunia. Sehingga seolah-oleh kesimpulan pubik mengatakan bahwa ummat Islam adalah ummat teroris “terbukti dengan sarang teroris ada di Negara dengan jumlah muslim terbanyak”. Indonesia yang selama bertahun-tahun selalu menjadi langganan serangan teroris menjadi buruk citranya, menjadi pusat tudingan negara-negara yang akhirnya mengecap Indonesia sebagai Negara teroris, hanya saja cap seperti itu sepertinya belumlah dilekatkan dengan Indonesia.


Bahkan dengan opini public yang terjadi saat sekarang ini pasca peledakan bom di Ritz Carlton dan JW. Marriot yang menyisakan kekhawatiran karena belum tertangkapnya gembong teroris Noordin M. Top menjadikan seluruh warga Negara Indonesia kian menjadi cemas. Orang tua mencurigai anak-anaknya yang menjalankan ibadah dengan sungguh-sungguh, tetangga mencurigai tetangganya yang lain, sekolah-sekolah harus mengkaji ulang setiap ada kegiatan keislaman di sekolahnya, organisasi-organisasi Islam merasa tersudutkan oleh wacana-wacan yang terus berkembang seolah-olah mengarah kepada mereka, pondok-pondok pesantren di selidiki dan di awasi, kurikulum pembelajaran di pondok-pondok di awasi dan ditelaah, dan semua tokoh ummat Islam harus sibuk memberikan penjelasan dan klarifikasi serta meluruskan anggapan masyarakat yang keliru terhadap kejadian ini. Entah apa lagi yang akan berkembang selanjutnya dengan semua ini. Semua ummat muslim menjadi tidak nyaman dan tidak tenang.
Belum lagi dilihat dari sisi pertumbuhan ekonomi yang mulai terhambat karena pertahanan dan keamanan di Indonesia dianggap cukup rawan, banyak negara-negara melarang warganegaranya yang akan berkunjung ke Indonesia, para investor menarik kembali dana yang sudah dialokasikannya untuk bisnis di Indonesia. Ditambah lagi citra kepolisain, pemerintah, dan badan intelijen yang semakin terpuruk, karena dipandang tidak optimal dalam mengantisipasai persistiwa ini. Bahkan ringan saja badan inteligen mengatakan dengan santai “kami kecolongan” (kepolisian dan intelijen saja bisa kecolongan, apalagi dengan masyarakat? Pantas saja sebagain asset negara dan segala potensinya banyak yang di colong oleh pihak asing dengan leluasa). Ini bukan hal sepele yang hanya hilang satu-dua asset negara, namun hilangnya nyawa yang tak berdosa dan menghancurkan Islam pada umumnya.Teroris. Apapun alasan yang digunakannya, apakah itu jihad membela Islam ataukah yang lain, kalau hanya memperburuk makna jihad dan Islam sendiri yang kemudian menghancurkan ummat sendiri. Ini namannya penghancuran Islam secara nyata.
Kalaupun toh benar kelompok teroris Jamaah Islamiyah ataupun kelompok Noordin M. Top yang melakukan semua ini dengan alasan untuk meninggikan Islam, dengan melawan Amerika dan antek-anteknya melalui jihad yang mereka fahami, maka apa yang mereka lakukan tidaklah cara yang akan meninggikan kalimatullah, tidak meninggikan Islam. Kalaupun mereka ingin mendapatkan hasil dengan tingginya kalimatullah dengan apa yang mereka lakukan, maka sungguh apa yang mereka lakukan begitu tergesa-gesa, mereka berharap memetik buah dengan sangat cepat dengan komfrontasi secara langsung dengan musuh. “ ingin memetik buah dengan segera sendangkan buah itu belumlah masak”. Apa yang mereka lakukan bahkan meruntuhkan keagungan kalimatullah dengan memperburuk keadaan ummat Islam. Ummat Islam menjadi terbebani dengan apa yang mereka lakukan. Ummat Islam dan negeri-negeri Islam sama sekali tidak merasa di tolong oleh mereka, sama sekali tidak merasa dibela oleh mereka. Tidak merasa diperjuangkan hak-haknya. Bahkan ummat Islam merasa terancam jiwanya oleh kelompok teroris tersebut,. Bukankah pada diri ummat Islam itu ada hak yang tidak boleh ditumpahkan sedikitpun? Bagi setiap muslim yang telah bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah menjadi terjaga seluruh darah dan hartanya? Sebagaimana Nabi Muhammad SAW yang juga Nabi yang disebut-sebut menjadi tauladan teroris itu menjelasakan “Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah dan aku adalah Rasul-Nya, kecuali disebabkan oleh salah satu dari tiga hal : orang yang sudah menikah/janda/duda yang berzina, membunuh orang, meninggalkan agamanya, serta memisahkan diri dari jamaah” (HR. Bukhary dan Muslim dari Ibnu Mas’ud). Apalagi kejadian pengeboman itu terjadi pada bulan Rajab yang tinggal dua bulan lagi menjelang Ramadhan sedangkan Rasul juga mengajarkan kepada kaum muslimin untuk meningkatkan amal ibadah menjelang Ramadhan sebagaimana beliau selau berdoa “ Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan bulan Sya’ban dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan”. Hal ini membuat kaum muslimin menjadi terlupa dengan persiapan menuju bulan yang penuh berkah dan ampunan serta anjuran Rosulullah ini.
Gejolak wacana teroris sangat menyedot seluruh perhatian sampai kepada keprihatinan, kecurigaan, dan kecemasan ummat. Ummat Islam cenderung melupaka momentum yang akan datang di depan mata yang harus disambut dengan suka cita yaitu momentum bulan Ramadhan. Bukankah Rosul selalu melakukan ibadah yang berlipatganda di bulan Sya’ban menjelang Ramadhan? Rosul berpuasa sunah paling banyak di bulan Sya’ban dibandingkan dengan bulan-bulan lain.Lalu apa yang dilakukan oleh kebanyakan ummat Islam ketika bulan Rajab dan Sya’ban ini? Mereka saling selidik-menyelidik, curiga mencurigai, khawatir, cemas dan aneka prasangka yang membuatnya lupa dengan peningkatan ibadah dan keutamaan bulan Sya’ban. Dan ini artinya tingkat kedekatan ummat muslim kepada Rabbya semakin berkurang, ibadah mereka semakin berkurang (disamping itu memang ummat Islam sudah banyak yang jauh dari ibadah-ibadah yang seharusanya mereka jalankan). Bukankah ini artinya juga musuh-mush Islam semakin senang melihat keadaan ini? Saya yakin mereka tertawa riang atau bahkan berjingkrak-jingkrak kegirangan melihat kondisi ummat Islam sekarang ini (ditambah berbagai beban yang memang sudah ditanggung sebelumnya, dengan berbagai masalah yang memang sudah terjadi pada ummat Islam).
Dengan situasi yang seperti ini, ummat Islam semakin terpuruk dan semakin jauh dari agamanya, bisa jadi memang kelompok teroris ini ternyata bersekongkol dengan musuh-musuh Islam untuk menambah buruk kondisi ummat Islam dan tidak ingin ummat ini memperoleh kejayaannya. Mereka berencana untuk menghancurkan ummat Islam. Namun Allah SWT juga memiliki perencanaan-Nya “Mereka membuat rencana, dan Allahpun membuat rencana. Dan Allahlah sebaik-baik perencana” (Ali Imran : 54). Sehingga sepatutnyalah kita berharap dan berlindung kepada Allah atas rencana mereka. Apa bila memang benar ada pihak-pihak yang benar-benar mendukung aksi-aksi teroris yang demikian maka kecaman yang keras bagi mereka dan para pelaku segala tindakan-tindakan yang bertujuan menghancurkan ummat Islam dan memalingkan ummat Islam dari ketaatan kepada Allah SWT, dimanapun tempatnya.
Kita sebagai ummat muslim tidak boleh menyerah dan tidak boleh pesimis akan datangnya cahaya pertolongan bagi ummat ini, biarpun keterpurukan yang memang ditimbulkan oleh kelompok-kelompok yang tidak senang dengan kebangkitan Islam. Kita ummat Islam harus terus berbuat dan berkarya, meningkatkan ibadah-ibadah kepada Allah dan melakukan perbaikan-perbaikan di seluruh aspek, saling mengingatkan dan menasehati dalam kesabaran dan kebaikan. Oleh karena itu saya mengajak kepada kaum muslimin untuk menguatkan ukhuwah Islamiyah dengan memahami dan mengamalkan pesan-pesan Rasulullah SAW antara lain :
Pertama, meningkatkan solidaritas sesama ummat Islam. Jika ada sebagian yang mengalami penderitaan dan kesulitan maka yang lain merasa ikut menderita dan ikut berusahan mengatasinya. Kedua, memadukan semua potensi dan kekuatan yang dimiliki ummat Islam agar kekurangan yang satu dapat ditutupi atau dicukupi oleh kelebihan yang lain, sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT “..mereka bagaikan bangunan yang tersusun kokoh”. Ketiga, mengurangi prasangka buruk terhadap sesama muslim atau menjauhi su’udhzon sebab sebagian prasangka itu dapat menimbulkan perbuatan dosa. Dengan memperhatikan hal-hal tersebut, mudah-mudahan ummat Islam benar-benar menjadi ummat terbaik sebagaimana yang telah Allah khabarkan “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik” (Ali Imron : 110). Terlebih dibulan Ramadhan yang mulia ini, mari kita benar-benar sungguh-sungguh meningkatkan keiman dan ketaqwaan kepada Allah SWT, serta memohon dengan do’a yang tulus agar ummat ini segera dikeluarkan dari keterpurukan yang kian menyelimuti, diberikan kesabaran dan dianugerahi pemimpin yang mencintai ummat dan bercita-cita tinggi untuk meninggikan Islam, diberikan kekuatan untuk beramal dan memperbaiki diri. Semoga di ramadhan kali ini benar-benar memberikan perbaikan bagi kulaitas ibadah ummat Islam. Memperoleh derajat taqwa yang sebenar-benarnya. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqoroh : 183).
banner
Previous Post
Next Post

0 komentar:

Follow by Email

Popular Posts