Rabu, 10 Juli 2013

Putuslah Dosa Dengan Taubat Nasuha

Dosa, maksiat, harus diputus begitu seorang mukmin menyadarinya. Jika tidak, ia akan mengundang saudara-saudaranya. Lebih cepat dan lebih dahsyat dari yang kita kira. Memutus dosa itu tidak lain adalah dengan bertaubat.

Diantara orang-orang beriman, ada yang berhasil memutus dosa ketika ia masih berada dalam lintasan hati. Sungguh beruntung orang-orang seperti ini. Misalnya Thalhah bin Ubaidillah, sang syahid yang masih berjalan di muka bumi. Suatu hari ia berbincang dengan seorang ummul mukminin yang juga sepupunya, Aisyah. Ketika Rasulullah datang, beliau menampakkan wajah tidak suka dan memberi isyarat Aisyah untuk masuk. Sebuah godaan melintas di hati Thalhah. "Rasulullah melarangku berbincang dengan Aisyah. Nanti setelah beliau wafat, aku akan menikahi Aisyah," begitu lintasan di hatinya.

Tak lama kemudian, Allah menurunkan wahyu. "Dan apabila kalian meminta suatu hajat kepada istri Nabi, maka mintalah pada mereka dari balik hijab. Demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka. Kalian tidak boleh menyakiti Rasulullah dan tidak boleh menikahi istri-istrinya sesudah wafatnya selama-lamanya." (QS. Al-Ahzab : 53)

Ketika ayat ini sampai kepada Thalhah, ia menangis. Ia lalu memutus lintasan hati itu. Mengikutinya dengan mu'aqabah; memerdekakan budak, menginfakkan 10 untanya dan berangkat umrah dengan jalan kaki.

Ada pula diantara orang-orang beriman yang memutus dosa setelah melakukannya, begitu ia menyadarinya.maka, tidak ada dosa lain yang mengiringinya. Misalnya Ka'ab bin Malik, Murarah bin Rabi; dan Hilal bin Umayyah. Ketiganya tidak turut perang Tabuk tanpa udzur syar'i. Begitu Rasulullah dan para mujahidin kembali ke Madinah, mereka bertiga memutus kesalahan itu di sana. Dengan jujur mereka menyampaikan kesalahannya. Mereka mendapatkan iqab dari Allah. Tidak diajak berkomunikasi oleh umat Islam selama 50 hari. Lalu setelah itu, mereka sukses. Bukan hanya memutus dosa dan memastikan tiada dosa-dosa lain yang diundang. Bahkan seperti sabda Sang Nabi kepada Ka'ab: "Bergembiralah dengan hari yang terbaik sejak ibumu melahirkanmu."

Berikutnya, ada pula orang beriman yang memutus dosanya setelah berlalu sekian lama. Hingga setelah tak lagi dosa lain mengiringi. Perempuan dari Juhainah pernah datang kepada Rasulullah dalam kondisi hamil untuk meminta ditegakkan hadd. Ia mengaku telah berzina, dan kehamilan itu adalah buktinya. Rasulullah menyuruhnya pulang untuk merawat kandungannya hingga sang bayi lahir. Barulah setelah itu ia datang kembali; memutus dosanya sekaligus mengakhiri hidupnya. Dirajam.

Umar kaget karena Rasulullah menshalati perempuan ini setelah dirajam. "Ya Rasulullah, engkau menshalatinya, padahal ia telah berbuat zina?"

"Sungguh ia telah bertaubat," jawab Rasulullah sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim, "Seandainya taubatnya dibagi kepada 70 penduduk Madinah, taubat itu pasti mencukupinya. Apakah kamu menjumpai sesuatu yang lebih utama daripada seseorang yang mengorbankan dirinya di jalan Allah?"

Begitu banyak orang yang sukses memutus dosanya hingga Ibnu Qudamah Al-Maqdisy menulis satu kitab tersendiri untuk menceritakan mereka. Kitab itu berjudul Kitaabut Tawwabiin.

Bagaimana mereka memutus dosa? Beragam cara, bermacam tingkatan. Naun muaranya pada satu hal. Ketika menyadari dosa, cepatlah kembali. Ingatlah tiga hal yang dinasehatkan Ibnu Al-Jauzi dalam Shaidul Khatir; "Waspadailah selalu pengawasan Allah! Pikirkanlah masak-masak resiko setiap perbuatan! Sadarilah keagungan Dzat yang melarang perbuatan dosa!"

Sesungguhnya setiap mukmin dianugerahi jiwa yang peka terhadap dosa. Sehingga memungkinkannya segera menyadari lalu memutusnya. Namun, sering kali rasa peka itu dilawan. "Ah, ini tidak apa-apa." "Ah, ini cuma dosa kecil." "Taubatnya nanti-nanti saja." Maka kepekaan itu menjadi tumpul, akhirnya terkubur.

Pada titik ini, biasanya dosa sudah menjadi hobi. Manusia asyik bergelimang dengan dosa. Itu karena, dosa yang dituruti akan dengan cepat mengundang saudara-saudaranya.

Yang paling menyedihkan, jika dosa-dosa itu terus memanggil saudaranya untuk menguasai kita hingga ajal tiba. Meninggal dunia tanpa sempat memutusnya. Mati tanpa taubatan nasuha. Jadilah su'ul khatimah. Neraka menanti di sana. Seperti kisah rahib di kalangan Bani Israi yang dititipi putri oleh sang raja. Mulanya memandang. Lalu timbul ketertarikan. Syawat menguasai, terjadilah apa yang terjadi. Takut dihukum dan kehilangan kepercayaan masyarakat, putri itu dibunuh dan dikubur di belakang rumahnya. Saat raja berhasil membongkar kasus ini, sang rahib dihukum. Menjelang kematiannya datang syetan menawarkan pertolongan. "Mintalah tolong padaku, dengan isyarat menundukkan kepada. Kau akan kutolong." Rahib itu terbawa dosa terbesar; syirik. Ia meninggal sesaat kemudian, tanpa taubat yang menyelamatkan. Wallaahu a'lam bish shawab. [Muchlisin]

Dikutip dari : www.bersamadakwah.com 
banner
Previous Post
Next Post

0 komentar:

Follow by Email

Popular Posts