Senin, 10 November 2014

[Sajak] Hari Pahlawan


Aku menghadap ke barat.. Di depan sana tampak Samudera Hindia yang luas, membatasi jarak pandang pada horizon.  Terbayang perlintasan tampa batas sampai daratan Asia di sebelah utara, dan daratan Afrika di arah depan, terus menembus Samudera Atlantik sampai ke daratan Amerika, kemudian berakhir di Samudera Pasifik dan Nusantara Indonesia.

Aku masih menghadap ke barat.. Di tepi Samudera Hindia itu, tampak kukuh berdiri Benteng Malbourogh. Membayang dalam benak ratusan tahun silam, tatkala penjajah mencengkram negeri dan mengeksploitasi segala kekayaanya. Bengkulu zaman Inggris dan Belanda.

Aku masih menghadap ke barat.. Di punggungku berderet gugusan Bukit Barisan, memanjang sepanjang Pulau Sumatera. Membayangkan kekayaan alam dan perlindungan alami bagi tanah ini..

Aku masih menghadap ke barat.. Di belakangku berdiri berjajar tokoh pahlawan.. Di sebelah kananku, berdiri Sang Panglima Perang zaman Pangeran Diponegoro. Dialah ulama, panglima perang sekaligus pangeran. Dialah yang terkenang sebagai Pahlawan. Dialah Kiyai Sentot Ali Basya.

Di sebalah kirinya, yakni tepat di belakangku, berdiri kukuh Sang Pahlawan Proklamasi, Ir. Soekarno. Dulu ia berdiri di situ menggoreskan sketsa bentuk Masjid Jamik Bengkulu.

Di sebelah kirinya lagi agak ke belakang, berdiri dengan anggun sosok perempuan sederhana saksi sejarah kemerdekaan. Dialah istri tercinta Sang Pahlawan Revolusi, Ibunda Fatmawati. Lewat tangannya yang lembut Sang Saka Merah Putih di rajut dengan benang.

Sedangkan tempatku berdiri saat ini adalah tempat dimana tak jauh darinya pusat perlawanan rakyat Bengkulu terhadap Belanda pertama kali di bentuk saat agresi, bernama Monumen Perjuangan Rakyat Bengkulu.


Aku berdiri disini, dinaungi gedung tinggi kampus Pahlawan Nasional Prof. Dr. Hazairin, SH. Dialah salah satu pahlawan nasional yang gigih memperjuangkan kemerdekaan saat agresi militer Belanda. Dialah otak perlawanan dan salah satu penggerak perang gerilya dari punggung Bukit Barisan.

Dialah yang mengeluarkan kebijakan menerbitkan uang kertas lokal (Uang Hazairin) demi keberlangsungan ekonomi di Bengkulu ketika uang RI susah didapat pada saat perang mempertahankan kemerdekaan.

Dialah salah satu tokoh dalam badan konstituante yang merumuskan UUD. Dialah Mendagri yang melaksanakan pemilu pertama kali di negeri ini.

Dialah salah satu ahli hukum islam yang menetang keras teori resepsi (reseptie), yakni hukum yang meremehkan Al-Qur'an dan menentang hukum islam. Bahkan ia sebut hukum itu sebagai hukum iblis.

Dialah salah satu pahlawan nasional yang terkenang..

Pahlawan, merekalah yang memberi dan berjuang untuk bangsa dan negaranya.. Bahkan lebih dari itu, pahlawan adalah mereka yang rela mengorbankan segalanya untuk tegaknya kebenaran dan hancurnya kebatilan. Sampai kebatilan itu hancur atau ia yang menang meski terbenam. Hidup mulia atau mati sebagai syuhada.

#Selamat_Hari_Pahlawan
Mari belajar menjadi pahlawan.

Referensi :
http://pahlawancenter.com/prof-dr-hazairin-sh/
banner
Previous Post
Next Post

0 komentar:

Follow by Email

Popular Posts