Kamis, 29 Januari 2015

Gerimis Di Khatulistiwa (1)


"Hemm,," Hasan terdengar berdesah dan menarik nafas dalam, di atas meja di depannya berserak buku-buku karangan Prof. Dr. Hazairin, SH.
"Mimpi Hazairin yang nampak seperti utopia kini," terdengar ia bergumam.

Ahmad masih tetap asyik dengan buku The Clash of Civilization Samuel P. Huntington di tanganya, ia nampak tak acuh dengan gumaman Hasan.

"Hahaha, negara tanpa penjara, filsafati dan idealis benar nampaknya," kembali Hasan mengeluarkan suara sambil tedikit tertawa dan membolak-balik buku ditangannya.

"Apa sih yang kamu tertawakan San? Kamu sedang baca buku apa? dari tadi ngomong aja," ujar Ahmad mulai terganggu.

"Buku ini dicetak keempat kalinya pada tahun 1985. Dalam pengantarnya Prof. Hazairin menuliskan tanggal 10 Februari tahun 1974. Hemm..sudah lebih dari 40 tahun berarti ide itu ada dan pernah disosialisasikan." Hasan berucap tanpa menoleh kepada Ahmad sambil membuka lembaran buku ditangannya memperhatikan tulisan dibagian pengantar buku.

"Eh, ngomongin apa sih kamu ini? Ditanya apa, jawabnya apa.." tanya Ahmad sambil bergeser mendekati tempat duduk Hasan, dia mulai penasaran dan memperhatikan buku di tangan Hasan.

"Wah.. dan rupanya ide ini pertama sekali disampaikan dalam bentuk buku yang diterbitkan oleh Perguruan Tinggi Hukum Militer (PTHM) bagi kepentingan internal perwira-perwira mahasiswa militer.. Coba lihat ini" Hasan menunjukkan lembaran di halaman kata pengantar buku yang dipegannya kepada Ahmad.

"Apa sih..? Idenya apa? Maen tunjuk aja, saya belum nyambung, kamu ngomong apa dari tadi San? Tolong inimah, jagan nyerocos terus dengan fikiran kamu sendiri.." Ahmad mulai tampak kesal dengan perilaku Hasan.

"Hehehe,, sory bro. Saya baca buku Prof. Hazairin ini, Beliau menulis teori Negara Tanpa Penjara, Nah kalau kita lihat realitasnya sekarang teori itu hanya nampak seperti utopia saja." Hasan mulai menjelaskan.


"Nih, lihat nih, Prof. Hazarinin menulis; Negara tanpa penjara? Hai, setahu kita dari sejarah sudah sejak lama sampai sekarang, penjara itu adalah suatu atribut kekuasaan. Kita sudah biasa dengan lembaga-lembaga yang berupa penjara itu. Orang bergembira mendengar penjahat masuk penjara, apalagi jika musuhnya dipenjarakan.." Hasan membacakan alenia awal dari tulisan Prof. Dr. Hazairin, SH., seorang guru besar Hukum adat dan Hukum Islam yang berjudul Negara  Tanpa Penjara.

"Nah yang disini, salah satu titik teorinya beliau menjelaskan; masyarakat dan negara tanpa penjara bukanlah suatu hal yang tidak mungkin, bukan sekali-kali suatu utopia atau angan-angan kosong! Masyarakat tanpa penjara adalah suatu ideal yang sangat tinggi mutu filsafatnya dan sangat besar keuntungannya, spirituil dan materiil." Lanjut Hasan.

"Owh itu, ide itu bagi kita yang baru baca memang tampak baru, tapi negara tanpa penjara memang pernah ada dan mungkin sekarang juga masih ada, yakni pada saat pemerintahan Islam sedang berjaya, saat kekhalifahan berdiri dan menerapkan syare'at islam, itu negara tanpa penjara." Ahmad menimpali dengan sedikit argumen. Tampak dia seperti membayangkan masa-masa keemasan islam dari buku-buku yang pernah dibacanya.

"Hemm,, tapi iya-ya, nampak seperti utopia kalau kita lihat di zaman sekarang ini," Ahmad mengakhiri bayangan dikepalnya tentantang masa keemasan Islam itu.

"Nah, itulah.. Disini Prof. Hazairin juga menyebutkan seperti itu. Negara tanpa penjara bisa terwujud dengan menerapkan Hukum Islam dan Hukuman Islam, yang pada dasarnya itu sudah terjiwai dalam demokrasi pancasila kita dan sudah tumbuh sejak lama dalam aturan hukum adat di masyarakat kita. Tapi kalau kita melihat realitas sekarang, kerumitan politik dalam penyelenggaraan pemerintahan, amburadulnya penerapan aturan hukum dan berkembangnya gagasan-gagasan liberal yang jauh dari nilai Pancasila, nampak sekali mimpi sang profesor ini kini hanya menjadi utopia." Hasan kembali menjelaskan sambil meletakkan telapak tanganya yang terjalin dibelakang kepala dan memadang ke langit-langit ruangan perpusatakaan itu.

"Nih lihat nih, apa yang saya baca," Ahmad menunjukkan buku yang baru saja dia baca.
Hasan bergerak memperhatikan buku ditangan Ahmad, "Buku apa ini? coba lihat, The Clash of Civilization, Benturan Peradaban, Samuel P. Huntington." Hasan membaca sampul depan buku itu. "Apa yang dibicarakannya Mad?" tanya Hasan lebih lajut, matanya menatap Ahmad menunggu jawaban.

"Kalau saya bandingkan dengan buku yang kau baca tadi, buku ini ada kaitanya," Ahmad memulai penjelasanya. Kening Hasan tampak berkerut mendengar pengantar dari Ahmad, namun ia sabar menunggu.

"Samuel P. Huntington menjelaskan dalam buku ini bahwa sedang ada benturan peradaban di dunia ini, yang utama yang perlu diwaspadai oleh negara-negara barat adalah benturan peradaban antara Islam dengan Barat. Peradaban Barat menghadapi tantangan dari peradaban Timur yakni Islam. Masyarakat barat dengan segala fasilitas kapitalisme dan liberalismenya menghadapi peradaban Islam dengan seluruh infrasturktur konsepsi Islam," Ahmad nampak serius menjelaskan tanpa jeda.

Dia melanjutkan, "Nah disini, dalam kaitan hukum saya kira dekat sekali dengan benturan antara penerapan hukum islam denga hukum barat, yang juga masih dalam kerangka benturan peradaban itu."

Hasan mengangguk-angguk mendengar penjelasan Ahmad, dia berusaha memahami, "Nah, itu seleras sekali dengan penjelasan Prof. Hazairin, Beliau juga menjelaskan tentang 3 hukum yang kini ada di lingkungan masyarakat kita, yakni hukum yang berasal dari barat, hukum islam, dan hukum adat. Ketiga hukum itu telah menjadi realitas yang ada dimasyarakat kita yang sejatinya masih terus mencari bentuknya yang baku. Prof. Hazairin berpendapat bahwa harusnya dibentuk hukum baru  bagi negara kita yang bersumber dari tiga hukum tadi, agar semuanya menyatu menjadi corak hukum baru bangsa kita," terang Hasan.

"Tapi kembali lagi pada realitas sekarang, kita lihat bagaimana penegakan hukum itu di negara kita..? hemm.. kasus penegakan hukum yang miris dan kisruh antar penegak hukum yang memalukan.. Cicak-Buaya-Banteng apalah itu, sungguh muak saya.." Ahmad berujar dengan nada kesal. Sedangkan Hasan tak memberika ekspresi sama sekali, ia kembali mengambil buku karangann Prof. Hazairin yang tadi ia baca.
Keduanya kini berdiam diri, menyelami alam fikirannya masing-masing.

Buku masih berserak di atas meja, diluar tampak panas menyengat, perpustakaan daerah hari itu tampak sepi pengunjung.  Beberapa petugas perpustakaan terlihat  santai berbincang-bincang antar satu sama lain di sudut ruangan bagian depan peminjaman dan pengembalian buku.

Sejurus kemudian terdengan adzan zuhur berkumadang dari mushola kator dinas pendidikan di samping gedung perpustakaan itu. Tak banyak kata, Hasan dan Ahmad beranjak keluar memenuhi seruan dengan membawa fikirannya masing-masing.

***
banner
Previous Post
Next Post

0 komentar:

Follow by Email

Popular Posts