Kamis, 18 Februari 2016

BOM SARINAH DAN RACUN KOPI


 Tentu masih hangat dalam ingatan kita saat hiruk pikuk ramainya berita di berbagai televisi mengenai teror di kawasan Sarinah. Terpantau selama tiga hari berturut - turut teror bom itu merajai jagat pemberitaan kita. Menurut berita korban yang di akibatkan oleh bom sarinah inipun mencapai 7 orang tewas, termasuk sang pelaku teror yang tewas di tempat. Selebihnya menyisakan tanya yang besar dibenak warga. Kok cepat hilang ya beritanya?

Teror bom sarinah yang digambarkan memberikan efek teror bagi warga ini direspon dengan ramainya hastag #kamitidaktakut di jagat twitter. Para pengguna medsos merespon teror dengan ungkapan tidak takut atas aksi teror tersebut. Teror bom itu nampaknya memang tidak memberikan efek rasa takut sedikitpun di kalangan warga. Padahal teror ini diklaim langsung oleh ISIS melalui websitenya.

Pemberitaan mengenai teror bom sarinah yang hanya berlangsung selama 3 hari disertai pujian yang tinggi atas 'kesuksesan' polisi memadamkan aksi teror dengan tuntas dan cepat ini disinyalir berbarengan dengan pembahasan perpanjangan kontrak PT Preefot di Papua. Informasi ini masih simpang siur disebabkan belum ada keterangan resmi dari pemerintah mengenai perpanjangan kontrak perusahaan tambang terbesar di dunia ini.



Tindakan polisi membinasakan semua pelaku teror langsung di tempat dan tidak menyisakan seorangpun yang ditangkap untuk diambil keterangan dan di adili di pengadilan dianggap sebagai sebuah kesuksesan besar yang dilakukan pihak kepolisian. Hukum yang berlaku seperti hukuman massa yang membunuh pelaku kejahatan tanpa ada proses pengadilan di meja hijau.

Tak lama berselang setelah hilangnya pemberitaan mengenai bom sarinah ini muncul kasus tentang racun kopi yang menewaskan seorang perempuan bernama Wayan Mirna. Wayan Mirna meninggal disebabkan oleh racun sianida yang tercampur ke dalam kopi yang diminumnya saat bersama Jessica dan Hani di salah satu kafe di Jakarta.

Pemberitaan tentang meninggalnya Wayan Mirna dan penetapan tersangka pembunuhnya telah menghabiskan waktu lebih dari 7 hari. Bahkan TVONE secara khusus menggelar dialog ekslusif bersama Jesicca yang belakangan ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak kepolisian. Selain wawancara khusus TVONE dengan Jesicca ini, TVONE juga dianggap sangat menambah heboh kasus ini yang dengan istimewa mengangkat diskusi yang dipandu oleh Bang Karni di ILC (Indoesia Lawyers Club) dengan tema "Benarkah Jesicca Pembunuh Wayan Mirna?" Akhirnya lebih dari sepekan berita tentang racun kopi ini bertengger di jagad media mengalahkan kasus Bom Sarinah.

Bukan bermaksud meremehkan kasus racun kopi yang telah menewaskan Wayan Mirna, akan tetapi ketimpangan pemberitaan ini menyiskan tanya, Kenapa? Apakah teror Bom Sarinah adalah sebuah kejadian biasa saja? Dan kasus racun kopi adalah kejadian luar biasa sehingga penyelenggaraan sidangnyapun perlu disiarkan secara langsung? Tewasnya nyawa sebanyak 7 orang dan diakuinya langsung oleh ISIS sebagai tindakan mereka, apakah tak memerlukan penyelidikan lebih lanjut?

Mungkin untuk Bom Sarinah sudah disiapkan tindak lanjutnya berupa revisi Undang Undang terorisme yang berlaku jangka panjang, namun apakah tidak ada usaha investigasi lebih lanjut untuk menyelidiki kasus bom sarinah ini? Ini semua tinggal i'tikad baik saja tentunya dari pemerintah. I'tikad mana yang disukai pemerintah, tentu itulah yang akan dijalankannya.

Mudah - mudahan kita sebagai warga Indonesia tidak mudah lupa, dan tidak pula mudah dibuat lupa. Termasuk tentang tanya - tanya yang kadang muncul tanpa ada jawabnya. Bom Sarinah, Racun Kopi, KENAPA berbeda ? Siapakah Wayan Mirna?

banner
Previous Post
Next Post

0 komentar:

Follow by Email

Popular Posts