Kamis, 18 Februari 2016

Suara dari Petani Karet : Pak Jokowi, Beri Kami Petunjuk

 Pak Presiden Jokowi, kami adalah petani karet di Kampung Sungai Nibung, Kecamatan Dente Teladas, Kabupaten Tulang Bawang, Lampung. Kebun karet kami alhamdulillah sudah bisa disadap dan menghasilkan getah. Kami berkebun karet dan kami melihat pada tahun 2010 - 2011 harga getah karet cukup lumayan untuk penghidupan. Ladang kami yang tadinya kami tanami palawija kami jadikan sebagai kebun karet dengan harapan hasilnya bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari dan bisa untuk menyekolahkan anak-anak kami. Waktu itu harga getah karet masih diatas Rp 10.000,- / kg.

Waktu beberapa tahun berselang, dengan perawatan dan pemupukan yang rutin tanaman karet kami tumbuh dan besar. Keuntungan dari getah karet cukup lumayan dan kehidupan kami muli berangsur agak baik. Anak-anak kamipun bisa bersekolah sampai ada yang masuk perguruan tinggi. Bahkan kami bisa mengambil kredit motor yang dibayar selama 3 tahun dengan cicilan beberapa ratus ribu dari hasil sadapan karet kami.

Namun pada tahun - tahun ini, tak lama berselang setelah bapak menjabat jadi presiden harga karet mulai berangsur turun dan kini telah anjlok harganya sampai dibawah Rp 5.000,-/kg. Kami bingung.
Begitu juga harga sawit milik tetangga kami, harganyapun anjlok di bawah Rp 1000,-/kg. Kami sangat bingung.



Pak Jokowi, kebun kami semua ditanami karet, ada yang punya 1/2 hektar, 1 hektar, 2 hektar bahkan ada yang sampai 5 hektar. Kebun karet kalau sudah besar tidak bisa ditanami dengan tanaman lain dengan model tumpang sari. Karena daunnya rimbun tanaman dibawahnya tak bisa tumbuh dengan baik.

Sedangkan model pengerjaan sadap karet adalah harian, kalau tidak disadap tiap hari maka tidak akan mendapatkan getah. Jadi setiap hari harus disadap. Setiap kali menyadap membutuhkan waktu minimal setengah hari kerja. Karena model kerja sadap ini harian jadi kami tidak bisa mengerjakan pekerjaan lain yang bisa digunakan untuk menambah penghasilan, kecuali hanya sebagian kecil waktu saja yang tak memiliki hitungan untuk memenuhi kebutuhan.

Pak Jokowi, beri kami petunjuk.
Harga getah karet ditingkat petani sekarang Rp 4.500,- / kg. Kalau sedang tidak turun hujan setiap minggu kami bisa menyadap sebanyak 7 hari. Tapi kalau musim hujan begini kami rata-rata hanya bisa menyadap 4 hari selama seminggu. Karena kalau sedang turun hujan atau batang karetnya basah, pohon karet tidak mungkin disadap. Sehingga selama seminggu kami sering hanya mendapatkan getah rata-rata sebanyak 45 kg, jadi dalam sebulan kami mendapatkan uang sebanyak Rp 800.000,- sampai dengan Rp 900.000,- saja.

Uang hasil sadap itu untuk kebutuhan sehari - hari keluarga kami saja tentu tidak cukup, apalagi untuk membayar angsuran cicilan kredit motor dan biaya sekolah anak - anak kami. Terpaksa motorpun kami kembalikan kepihak dealer dan begitupula yang terjadi pada kebanyak petani karet. Bahkan ada tetangga kami yang terpaksa menjual motor satu-satunya yang ia miliki untuk membeli beras. Nangis batin kami mendengarnya. Ia tak mampu mencukupi kebutuhan sehari-harinya dari menyadap karet dan akhirnya menjual motor untuk membeli beras.

Pak Jokowi, kami minta petunjuk.
Banyak diantara kami yang sudah menawarkan kebun karetnya untuk dijual, namun tidak kunjung laku. Sebab harga karet sekarang anjlok. Kalaupun ada yang laku kebun itu akan dirombak dan ditanami singkong.
Pak Jokowi, jika kebun karet kami rombak untuk ditanami tanaman lain semisal singkong, biaya merombak ladang itu tidak terjangkau bagi kami yang pendapatannya minim sekali. Biaya merombak ladang yang sudah ditumbuhi pohon - pohon karet mencapai 10-an juta. Kami tak mampu. Mau dapat uang dari mana untuk merombak kebun itu? Modal dari mana untuk menanaminya dengan tanaman lain ? Kalau kami tetap bertahan dengan tanaman karet ini, kamipun takpunya harapan, karena hasil dari menyadap karet tak memenuhi kebutuhan kami. Kami bingung.

Pak Jokowi, bolehkan kami bertanya. Kenapa harga karet anjlok? Apakah bapak sudah tidak membuka kran ekspor karet lagi ke luar negeri? Atau benarkan cerita orang - orang kalau Bapak hanya peduli dengan para kontraktor proyek pembangunan infrastruktur yang dari Cina itu dan tak perduli dengan petani karet?

Pak Jokowi, kami minta pentunjuk. Apakah memang benar kami harus merombak kebun karet kami? Karena menurut kata orang - orang wilayah kami tidak direstui menjadi perkebunan karet? Katanya wilayah kami harus semuanya ditanami singkong? Kalau kami terpaksa berhutang untuk membiayai perombakan kebun karet menjadi kebun singkong, asal ada jaminan harga singkong tidak anjlok mungkin kami mulai berfikir untuk mengambil hutangan. Namun siapakah yang akan menjamin harga singkong tetap tinggi? Dan harga karet tidak akan naik lagi?

Pak Jokowi, kami terkadang bingung. Jika kebun karet kami dirombak menjadi kebun singkong dan ternyata harga singkong malah turun saat kami panen nanti, maka kami tentu akan merugi. Apalagi kalau ternyata harga karet tiba - tiba naik lagi. Kami akan sangat menyesal berlipat - lipat.

Mohon petunjuk Pak Jokowi.
Hidup kami sekarang serba susah. Anak kami juga ternyata kerja dikota sudah ada yang di PHK, pulang nyari kerjaan jadi buruh tani, hasi tak seberapa. Belum lagi mikir hidup keluarga. Bisakah keadaan ini tak berlama - lama ? Tanggungan sekarang menjadi lebih banyak. Bayar listrik yang mulai naik setiap bulan, angsuran BPJS kesehatan pun menyusul kemudian, BBM naik-turun tapi ongkos tak pernah turun.

Beri kami harapan yang tak sekedar pepesan. Apalagi harapan hutang di masa depan. Kalau memang benar bapak hanya peduli dengan proyek pembangunan infrastruktur dari Cina itu dan tidak peduli pada petani karet, itulah ternyata nasib kami. Jika bapak tidak bisa membantu kami, cukuplah bapak jangan menambah beban kami dengan hutang di masa depan, karena kami khawatir program pembangunan proyek infrastruktur bapak berasal dari hutang luar negeri yang kelak menjadi tanggungan anak cucu kami.
banner
Previous Post
Next Post

0 komentar:

Follow by Email

Popular Posts