Kamis, 26 Mei 2016

Ambiners Bengkulu

Ambiners

Sahabat, tentu sebagian besar kita telah merasai indahnya persahabatan. Namun itu mungkin belum pernah dirasakan bagi orang yang menutup diri dalam kehidupannya. Dimanapun tempatnya ketika kita bergaul dengan orang lain, peluang persahabatan yang indah itu selalu tersedia, tinggal apakah diri kita mau membuka peluang itu atau tidak.

Berbaur dengan orang lain, bersahabat dengan siapapun dari berbagai latar belakang punya keunikan tersendiri. Contohnya komunitas baru yang dibentuk di Bengkulu baru-baru ini. Komunitas pecinta seni bernama Ambin. Dalam komunitas ini para Ambiners, begitu mereka menyebut anggota-anggotanya, ingin bergaul dengan siapapun dalam rangka merangkai persahabatan dan berkarya di bidang seni.

Agenda perdana komunitas Ambin ini launching pada 14 Mei 2016, berkumpul pada malam launching tersebut berbagai komunitas dan kelompok seni Bengkulu. Tergambar keceriaan dan kebersamaan anggota-anggota komunitas ini bersama pecinta seni lain. Saya membayangkan telah terbentuk persahabatan baru dari komunitas ini.
Bunda Yusni membacakan puisi tentang Yuyun

Penampilan seni dari masing-masing mereka pada malam launching yang lalu penuh dengan nuansa kepedulian atas problem dan masalah bangsa, itu titik point yang saya rasakan saat menyaksikan secara langsung penampilan sahabat-sahabat pecinta seni ini.


Puisi tentang Yuyun yang dibawakan oleh bunda Yusni,  kritik sosial oleh Pak Mulyadi, Edy Ahmad, dan Teater Jengkal memberikan gambaran bahwa komunitas pecinta seni cukup cerdas memainkan perannya bagi masalah-masalah bangsa. Semoga selalu ada suara-suara yang peduli pada kebenaran, konsisten berkarya dalam kebaikan dan perbaikan.
Pak Mulyadi (kanan), Sastrawan Bengkulu saat membacakan salah satu puisi diacara Launching Ambin





banner
Previous Post
Next Post

0 komentar:

Follow by Email

Popular Posts