Jumat, 03 Juni 2016

Burung Pipit dan Pohon Kurma Depan Rumah

@Marajut Hikmah


Depan rumahku ada 6 batang pohon kurma. Setiap kali berbunga ia rontok tak pernah jadi buah. Dengan daunnya yang hijau, kurma ini tampak tumbuh subur. Meski tak menghasilkan buah, namun ia memberi keindahan.

Deretan pohon kurma ini tepat di pinggir jalan. Kendaraan orang melintas berlalu lalang. Jalan di depan rumahku termasuk ramai, penghubung menuju terminal dan pasar Panorama Bengkulu.

Pagi ini aku duduk memperhatikannya. Ada hal unik kutemukan. Dari keenam pohon kurma ini, empat diantaranya terdapat sarang burung pipit. Empat sarang burung pipit ini masih baru dan berpenghuni semua.

Pagi ini keceriaan menyeruak disela-sela dahan pohon asal Timur Tengah itu, lantaran ada beberapa ekor burung pipit muda mulai belajar terbang dan meloncat-loncat di antara dahan. Generasi pipit baru telah menetas dan sedang tumbuh dewasa.


Pohon kurma dan burung pipit. Mereka tak begitu menghiraukan orang-orang yang lalu lalang di depannya. Toh orang-orang itupun tak memperhatikannya. Mereka sibuk dengan aktivitas dan kesibukannya masing-masing.

Pohon kurma fokus dengan pertumbuhannya, setiap kali pelepahnya yang tua berjatuhan kemudian berganti dengan pelepah baru berdaun rindang. Bunganyapun terus saja bertumbuhan meski harus gugur karena faktor tanah, cuaca, dan musim yang tak cocok baginya.

Burung pipit terus asik dengan sarang dan anak-anaknya. Bercengkrama di dahan-dahan pohon kurma yang tampak bersuka cita dengan kehadirnya. Aku membayangkan betapa indah persahabatan mereka.
Saat angin dan hujan, burung pipit berlindung di dahan kurma. Saat hari-hari sepi tanpa ada perhatian, burung pipit memberi semarak dan keceriaan pohon kurma.

Mereka terus begitu, entah ada yang peduli atau tidak. Mungkin sampai pohon kurma semakin tua dan tak mampu lagi menumbuhkan dahan rindangnya. Atau sampai suatu hari ketika ada manusia datang menebang batangnya.

Disinilah kita mengambil pelajaran dari ciptaan-Nya, merajut hikmah menilisik ciptaan-Nya.

Allah SWT telah mengatur segala ciptaan berikut dengan urusan dan kesibukannya masing-masing. Sesungguhnya tak ada sesuatupun dalam ciptaan-Nya yang tak memberi manfaat. Meski ia tak diperhatikan atau bahkan diabaikan oleh yang lain.

Pohon kurma tau tentang dirinya, ia sadar diri bahwa ia tak mungkin mampu berpindah tempat dan bergeser dari tepi jalan yang mungkin membuatnya kebisingan. Namun ia tetap fokus dengan pertumbuhannya dan memberikan ruang pada pipit yang bersuka hati membersamainya.

Begitulah kita semestinya, tak perlu memaksakan diri untuk sesuatu diluar jangkauan kita, tak perlu memaksa diri terhadap sesuatu yang mustahil dihadapi. Namun fokus pada potensi diri dan orang-orang disekitar kita yang selalu membersamai.
Ada orang tua yang selalu mencintai kita, ada teman dan sahabat yang selalu hadir menghibur dikala sendiri, ada tetangga tempat kita hidup berdampingan bersama dalam komunitas masyarakat berbangsa dan bernegara.

Burung pipit hadir membuat suasana ceria dan berseri, memberikan kesan kebahagiaan bersama pohon kurma. Ia menjaga pohon kurmanya dan membesarkan pipit-pipit kecil di dahan-dahan kurma. Mereka selalu saja begitu, hidup dengan keceriaan, terus bertelur dan membesarkan generasi-generasi penerusnya.

Begitulah juga semestinya kita, Allah SWT telah menganugrahkan bumi yang subur untuk ditempati dan memenuhi segala keperluan kita di bumi. Bumi yang indah telah diciptakan dengan segenap isinya untuk dimakmurkan dan digunakan untuk umat manusia.

Dengan segenap nikmat yang Allah anugrahkan itu, semestinya kita ceria dan bahagia tinggal di Bumi, penuh syukur dan bersuka ria, seperti halnya pipit yang selalu ceria saat pagi hari.

Tidak selayaknya kita yang Allah anugrahkan tempat tinggal lebih dari sekedar dahan pohon kurma, tidak bisa berbahagia dan tidak bersyukur. Semestinya kita menjadikan bumi berikut segala isinya tempat memadu kegembiraan dengan syukur nikmat kepada-Nya.

Menjadikan bumi tempat menumbuhkan generasi-generasi yang ceria dan tau cara bersyukur. Bukan menjadikan bumi tempat berkeluh kesah atau tempat tumbuhnya generasi-generasi perusak yang menentang Sang pemberi nikmat.

Bumi harus terus dijaga dan dilestarikan demi kemakmuran dan keberlanjutan jangka panjang generasi pewaris yang akan datang. Bukan menjadikan bumi tempat paling mengerikan karena berbagai kerusakan yang dibuat oleh tangan-tangan kita penghuninya.

Mari kita berlindung dari kejahatan tangan-tangan kita dan berlindung dari panasnya adzab neraka.

Rabbana ma kholaqta hadza batila, subhanaka fakina 'adzabannar.. Ya Tuhanku tidaklah Engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau, maka selamatkanlah aku dari adzab neraka.

Selamat beraktivitas sahabat, mari kita terus bersyukur.
banner
Previous Post
Next Post

0 komentar:

Follow by Email

Popular Posts