Kamis, 28 Juli 2016

Hasil Penelitian dan Objektivitas Belum Tentu Selamanya Benar



Beberapa orang berpendidikan tinggi tampak berkutat dengan hasil penelitian dan buku-buku bacaan mereka yang tebal. Mereka melakukan berbagai eksperimen dan penelitian, dan fakta empiris bagi mereka merupakan kebenaran. Berdasarkan penelitian, observasi, dan pengamatan terhadap sebuah kejadian, mereka menemukan sebuah fakta objektif dan mampu menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi.

Metodologi penelitian, observasi yang benar dan pengamatan yang tepat mampu mereka ciptakan untuk mengungkap sebuah fakta-fakta serta menemukan hal-hal baru dari sebuah permasalahan secara objektif. Ini adalah kemampuan hebat dan termasuk bagian dari kemajuan ilmu pengetahuan. Merekapun akhirnya mampu menelurkan teori-teori hebat yang menjadi rujukan berbagai kalangan dan orang-orang pintar setelahnya.

Namun, teori mereka terkadang ada yang tidak bertahan lama. Setelah ditemukan fakta baru yang berbeda dengan teori yang mereka keluarkan, akhirnya teori mereka gugur dan tidak dipakai lagi. Teori baru kemudian muncul kembali. Masih ingat mungkin dibenak kita tentang teori Heliosentris dan Geosentris? Bumi ataukah Matahari yang menjadi pusat dari perputaran planet dan bintang-bintang ini? Dan kini setelah ditemukannya berbagai galaksi, apakah teori itu hanya sekedar Heliosentris?

Selalu muncul teori baru sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Fakta-fakta baru ditemukan, teori lama ada yang semakin dikuatkan dan ada yang gugur diabaikan.
Khusus untuk teori yang gugur, dahulu dianggap sebagai sebuah kebenaran dan diikuti oleh semua orang. Dianggap sebagai sebuah kebenaran yang hakiki sampai muncul fakta dan kesimpulan baru yang menggugurkannya hilang ditelan bumi.

Suatu hari berkumpullah para pembesar quarisy di Darun Nadwah, sebuah tempat di sisi Ka'bah tempat para petinggi dan cendekiawan berdiskusi dan melakukan musyawarah. Mereka mendiskusikan tentang Muhammad SAW dan ajaranya. Ada yang berkata bahwa Muhammad adalah orang gila, dukun, dan penyair namun sebagian yang lain menolak pernyataan tersebut karena faktanya Muhammad tidak gila, bukan seorang dukun, dan juga bukan seorang penyair.

Lantas muncullah pendapat Al Walid ibn Al-Mughirah, yang mengatakan Al-Quran adalah sihir, ajaran yang dibawa Muhammad adalah sihir. Ia mengungkapkan fakta berdasarkan data dan pengamatannya bahwa ajaran Muhammad mampu memisahkan antara anak dengan orang tuanya, istri dengan suaminya, seorang anggota kabilah dengan kelompoknya, seorang teman dengan temannya, seorang tetangga dengan tetangganya, seorang budak dengan tuannya.

Orang-orang di Darun Nadwah itupun terperangah dan sangat setuju dengan pendapat Al Walid, menurut mereka teori dari Al Walid adalah sesuatu yang benar dan masuk akal, karena menurut mereka tidak ada yang bisa melakukan ini kecuali sihir. Teori inipun dianggap sebagai sebuah kebenaran dan disebar luaskan ditengah masyarakat Arab.

Orang-orang quraisy ini memang tidak percaya pada ajaran Muhammad dan melakukan tipu daya dan berbagai muslihat untuk menolak dan memberangus ajaran Muhammad. Teori dari Al-Mughirah dalam rangka ingin memberangus ajaran Muhammad pada waktu itu bisa diterima akal, bahkan berdasarkan obeservasi faktanya yang terjadi mememang demikian. Orang Islam dengan orang kafir berubah status hubunganya, ikatan hubungan mereka berubah dan ada batasan-batasan tertentu diantara mereka khususnya mengenai masalah peribadatan atau ajaran agama dan hubunganya dengan Tuhan.

Fakta didapati, seorang budak bernama Bilal bin Rabbah tidak menuruti kehendak tuannya, Mus'ab bin Umair seorang anak muda belia menolak kehendak ibunya, perempuan-perempuan yang telah beriman bercerai dengan suaminya yang masih kafir, laki-laki bercerai dengan istrinya yang musyrik, semua orang yang masuk islam pada waktu itu dikucilkan dan diasingkan oleh kabilahnya. Itu semua disebabkan mereka mengikuti ajaran Al-qur'an, ajaranya Muhammad SAW.

Namun fakta dan teori yang ditunjukkan Al Mughiroh untuk menyudutkan Muhammad dan pengikutnya tidak selamanya benar. Beberapa tahun kemudian, setelah Islam semakin berkembang dan memenangkan Mekkah, ternyata ajaran Muhammad adalah ajaran kedamaian. Al Qur'an bukanlah sihir yang memisahka antara anak dari orang tuanya, tetantangga dengan tetangganya, suami dari istrinya, atau anggota kabilah dengan kelomponya.

Ajaran Alquran adalah pemersatu mereka, menguatkan hubungan kekerabatan diantara mereka, membangun cinta kasih dan silaturahim diantara mereka. Mewajibkan bakti kepada kedua orang tua, menguatkan solidaritas pada setiap kelompoknya dibawah naungan Islam yang bukan sekedar solidaritas kelompok kabilahnya.

Kebenaran Alqur'an pada waktu dulu belum diakui, bahkan menurut sebagian orang faktanya ajaran Alqur'an merupakan sihir. Tapi kini setelah berbagai fakta lain terjadi seiring dengan diamalkanya ajaran Alquran, Alqur'an dianggap sebagai sebuah kebenaran yang hakiki. Dulu ajaran Alqur'an dianggap tidak rasional, tuduhan terhadap Alqur'an sebagai sihir dianggap rasional dan masuk akal, namun teori itu kini tidak lagi diakui gugur sendirinya ditelan bumi. Banyak penemuan yang sumbernya dari Alqur'an dan membenarkan kebenara Alqur'an.

Dari sini kita dapati pelajaran bahwa setiap pengamatan atau penelitian manusia yang masuk akal dan rasional sekalipun belum tentu selamanya benar. Dan sebaliknya sesuatu yang tidak masuk akal belum tentu selamanya salah, khususnya kalau itu sumbernya dari wahyu Tuhan.

banner
Previous Post
Next Post

0 komentar:

Follow by Email

Popular Posts