Selasa, 05 Juli 2016

Informasi Langit dan Informasi Bumi


Ungkapan, "siapa yang menguasai informasi dan paling melek informasi, dia yang akan memiliki pengaruh. Juga bisa menjadi penguasa/pemimpin."

Informasi itu bisa berupa banyak hal. Baik informasi perkembangan dunia, opini atau isue yang sedang beredar, informasi yang menjadi ilmu pengetahuan maupun informasi mutlak yang datangnya dari langit sumber segala kebenaran.

Terkait dua hal itu, informasi bumi dan informasi langit, maka kini sudah mulai terlihat kecerdasan manusia menanggapinya.

Informasi bumi (terutama yang berkaitan dengan opini atau isue yang sedang berkembang), banyak manusia cerdas yang mulai berfikir tentang 'memverifikasi' kebenarannya. Karena informasi bumi belum mutlak kebenarannya. Bahkan cenderung bisa direkayasa.

Apalagi kini perang media informasi semakin kentara sehingga semakin menyadarkan manusia untuk tak mudah percaya begitu saja atas informasi yang baru didapatnya.

Bagi yang pernah mendengar pesan dari 'sang pembawa pesan langit terakhir', Muhammad SAW ,ketika ia didatangi salah seorang dari sahabatnya yang hendak bertanya tentang kebaikan, ia mengatakan "mintalah pendapat dari hatimu, kebaikan adalah apa yang jiwa dan hati tenang karenanya, dan dosa adalah apa yang mengganggu jiwa dan menimbulkan keragu-raguan dalam dada, meskipun orang- orang menberimu fatwa dan mereka membenarkannya."


Bagi yang mempercayai pesan itu, maka ia akan selalu menimbang tentang kebenaran-kebenaran dan keburukan-keburukan yang sampai kepadanya, sampai pada pertimbangan jiwa atau hati. Jika jiwa dan hati itu tulus, maka akan didapatkannya hal yang sebenarnya. Apakah membuat jiwanya tenang atau membuat jiwanya gundah/panik.

Jika setiap diri sudah memverifikasi kebenaran-kebenaran informasi, bahkan sampai pada hal-hal yang mendalam, dan sudah menjadi budaya masyarakat, maka tak mudah lagi 'penguasa media informasi menjadi Penguasa'. Karena legitimasi informasinya terletak pada keputusan tiap orang masing-masing, apakah telah diputuskan sebagai kebenaran yang menenangkan atau sekedar lelucon yang mesti diabaikan.

*Catatan pada facebook Beni Sumarlin [6 Agustus 2014]

banner
Previous Post
Next Post

0 komentar:

Follow by Email

Popular Posts