Rabu, 27 Juli 2016

Kepentingan yang Abadi atau Kesetiaan yang Abadi

Salah satu aktivitas politik para poltisisi : Suasana hearing DPRD Kota Bengkulu bersama mahasiswa.

Sahabat, kali ini saya ingin coba sedikit mengulas masalah politik, kebetulan lagi rame masalah resuffle kabinet Jokowi-JK. Dalam politik sering kita dengar adagium ungkapan politik yang berbunyi, "tak ada kawan atau lawan yang abadi, yang ada adalah kepentingan." Ungkapan ini menandakan bahwa politik itu sangat dinamis, sangat mudah berubah dan tidak bersifat kekal. Pada suatu sisi seseorang bisa menjadi kawan, dan disisi yang lain ia bisa menjadi lawan. Disatu waktu menjadi teman yang menguatkan, diwaktu yang lain bisa menjadi lawan yang berseberangan.

Bahkan saat posisi sedang berseberangan, para politisi masih tetap bisa terlihat berkawan dengan rivalnya saat makan-makan atau minum kopi bareng di sebuah restoran. Mereka saling adu argumen dan memainkan muslihat dalam forum-forum persidangan, namun saling berangkulan saat bertemu dijalan atau warung makan.

Fenomena seperti itu, kabarnya juga tidak hanya terjadi pada politisi zaman sekarang. Pada zaman Soekarno, Muhammad Hatta, Muhammad Natsir, Buya Hamka, Syahrir, dan yang lain-lainya dulu juga terjadi. Mereka saling menentang dalam sidang di parlemen namun setelahnya ngopi bareng di teras rumah. Mereka mengatakan, "pandangan kami memang berbeda, namun bukan berarti kami bermusuhan". Mereka dianggap berjiwa besar dengan mengelola perbedaan pandangan demi kemajuan bangsa.

Selain itu, ungkapan "tak ada kawan atau lawan yang abadi, yang ada adalah kepentingan," menandakan dasar dari koalisi atau oposisi dalam politik adalah kepentingan. Orang berkawan (baca:berkoalisi) karena ada kepentingan yang sama-sama  diinginkan, dan orang berlawanan (baca:oposisi) disebabkan ada kepentingannya juga.
Jika ada kepentingan kelompok yang satu tidak diakomodir oleh kelompok yang lain maka dua kelompok ini berlawanan. Namun jika kepentingan masing-masing kelompok bertemu, maka mereka saling berkoalisi. Itulah pemersatunya, yakni kepentingan. Kepentingan biasanya berwujud dalam bentuk kekuasaan, keserakahan, korupsi, kesombongan, dan ingin menang sendiri. Kepentingan yang seperti ini jangan sampai abadi.

Oleh karena itu saya lebih suka mengatakan adagium politik dengan ungkapan," Tak ada kawan atau lawan yang abadi, yang ada adalah kesetiaan pada kebenaran yang abadi."

Ativitas politik adalah aktivitas yang dijalankan oleh manusia, bahkan sekumpulan manusia dalam mengelola negara yang berisi kumpulan lebih banyak lagi manusia. Manusia adalah makhluk yang dinamis, fikiran, perasaan dan hatinya mudah berubah. Jika masuk pengetahuan baru, seseorang bisa saja langsung berubah. Jika ada sebuah kebenaran yang baru yang diyakini, maka hati manusia bisa berubah, sikap dan tindakannyapun bisa berubah. Maka kedinamisan dalam politik itu sesuai dengan tabiat manusia yang hati, perasaan, dan fikirannya mudah berubah-ubah.

Tak ada kawan atau lawan yang abadi, karena mungkin karena suatu perubahan tertentu, seorang kawan bisa menjadi lawan, dan sebaliknya seorang lawan bisa menjadi kawan. Tak bisa dianggap musti tetap dan permanen. Lantas apa yang musti tetap dan pemanen? Yang musti selalu tetap dan permanen tidak berubah adalah kebenaran. Sebab pada hakekatnya kebenaran tidak pernah berubah.

Oleh karena itu dasar pijakan dari berkawan atau berlawanan itu musti sesuatu yang permanen, kuat dan teguh, yakni kebenaran, bukan kepentingan. Dalam konteks keagamaan, maka sumber kebeneran yang menjadi pijakan adalah kebenaran yang hakiki, kebenaran yang datangnya langsung dari Tuhan semesta alam. Dan ini yang diyakini oleh sebagian besar umat manusia sebagai sandaran kebenaran yang paling kokoh terhadap segala hal.

Dalam konteks politik, kebenaran yang menjadi pijakan dalam berkawan atau berlawanan tercermin dalam bentuk tujuan, gagasan, perilaku, aturan, cara atau metode, serta orang-orangnya.

Jika kebenaran yang menjadi pijakan dalam berkawan atau berlawanan, maka sangat memungkinkan juga tidak ada koalisi atau oposisi yang sempurna. Jika ada keputusan dikeluarkan oleh salah seorang kawan (dalam koalisi) yang ternyata tidak sesuai dengan konteks kebenaran, maka anggota koalisi yang lain bisa saja tetap mengkritik dan tidak mendukung. Begitu juga sebaliknya jika ada kebenaran dalam keputusan lawan koalisi (kelompok oposisi), maka bisa jadi kelompok oposisi itu malah akan mendukung. Patokan standarnya adalah kebenaran yang diyakini, bukan kepentingan.

Jika demikian, mudah-mudahan segala kepentingan akan tunduk pada aturan, bukan lagi merajai dan menciderai aturan yang ditetapkan. Kebenaran bagi bangsa kita adalah kita perlu mewujudkan tujuan didirikanya Negara Kesatuan Republik Indonesia. NKRI yang bersatu, berdaulat adil dan makmur. Negara yang mencerdaskan kehidupan bangsanya dan turut serta menciptakan ketertiban dunia dan perdamaian abadi.

Kepada kebenaran inilah hendaknya politisi selalu setia. Setia pada tujuan NKRI, setia berjuang mewujudkanya, setia berkorban untuknya, setia menjadi tulang punggung dan pengibar panji-panjinya. Kesetiaan ini harus abadi setelah kesetiaan yang sempurna pada Tuhan Pemilik kebenaran hakiki.
banner
Previous Post
Next Post

0 komentar:

Follow by Email

Popular Posts