Minggu, 17 Juli 2016

Kuat Mencari Penguat [potret negeri]



Masjid di sebuah kampung saat subuh


Ini adalah kisah kondisi nyata di tengah masyarakat kita. Saya temui di salah satu daerah di bilangan Lampung Tengah. (saya tidak akan menyebutkan tempatnya secara detil).

Daerah ini cukup luas dan memiliki potensi dan kekayaan yang cukup banyak. Jumlah penduduk mencapai 3.000 jiwa lebih. Roda ekonomi berputar cepat, hampir setiap rumah tercukupi kebutuhan hidupnya. Penghasilan penduduk mayoritas dari ladang, ada beberapa dari sawah dan berdagang, adapula yang menjalankan bisnis jasa dan beternak hewan.

Rumah-rumah penduduk nampak sederhana saja, tak terlalu mencolok untuk dianggap sebagai kelompok orang-orang kaya.

Rata-rata setiap kepala keluarga memiliki kebun singkong yang bisa menghasilkan uang puluhan juta setiap tahunnya. Di belakang rumah-rumah merekapun rata-rata terdapat kandang sapi atau kambing sebagai hewan ternak mereka. Dari ternak inipun penduduk mendapatkan tambahan pendapatan yang cukup signifikan.

Seperti itulah kondisi kehidupan ekonomi mereka, meski tak semua merata seperti itu, namun kondisi ini adalah kondisi mayoritas diantara mereka.


Namun ternyata ketenangan, kesentausaan dan kedamaian ternyata tak seiring dengan kelimpahan kehidupan mereka.

Rasa tentram dan damai bagi sebagian mereka masih perlu diusahakan. Perputaran ekonomi menjadikan mereka berpacu meraih harta, mereka tak mau ketinggalan antara yang satu dengan yang lainnya, pinjam uang di bank untuk mendapatkan modal lebih besar menjadi paforit bagi mereka. Apalagi potensi ladang singkong yang menjanjikan membuat mereka punya jaminan yang menggiurkan.

Kondisi ini akhirnya memicu kompetisi dan konflik diantara mereka. Pihak-pihak lain yang merasa kuat mulai datang mengusik. Yang mengaku preman punya kekuatan dan dekengan datang merampas tanah ladang dengan cara halus atau kasar. Mereka tergiur dengan hasil ladang yang menjanjikan.

Harga tanah perladangan melambung tidak karuan, orang-orang datang berebutan jika ada yang hendak menjual tanah perladangan.

Sertifikat tanah adalah surat sakti paling dicari, bagi yang tak memilikinya harus waspada jika tiba-tiba atas nama tanahnya sudah berganti.

Orang-orang kuat ekonominya dan orang-orang preman punya dekengan menjadi penguasa. Sedangkan orang lemah khawatir luar biasa.

Ada yang mencari aman dengan menempel pada tokoh yang dijadikan dekengan, baik dari pejabat, polisi, politisi, dan tentara. Jika mereka tak mencari dekengan, harus siap menjadi santapan.

Mereka ingin kuat dengan mencari penguat. Mereka siap membayar dan memberi sogokan asal aman, tak diusik, dan tak jadi bahan santapan.

Tapi ada satu hal yang mengharukan. Saya ikut bersama sebagian dari mereka saat subuh tiba di sebuah mushola. Jamaah sholat subuh dipagi buta itu tidak seberapa, tidak lebih dari 6 orang laki-laki dan perempuanya.

Azan berkumandang, pujian dan doa dilantunkan, sholat didirikan dan zikir serta doa sekali lagi dipanjatkan.

Ada selaksa haru yang marasuk dijiwa, saat seorang jamaah bercerita, "kami tak punya dekengan siapa-siapa, tapi kami punya Allah yang akan selalu melindungi dengan kuasa-Nya."

Orang-orang ini mencari kuat dengan penguat yang sebenarnya. Tiada tempat mengadu dan minta pertolongan kecuali hanya kepada-Nya.

Orang-orang inilah orang yang benar imannya. Meski mereka tak punya koneksi dengan orang-orang kuat lainya, namun ia terkoneksi dengan Yang Maha Kuat, Allah SWT.

Segala puji bagi Allah yang telah mempertemukan aku dengan mereka.
Maha suci Ia yang selalu menyayangi hamba-hamba-Nya.
------
*Dekengan = beking
banner
Previous Post
Next Post

0 komentar:

Follow by Email

Popular Posts