Selasa, 19 Juli 2016

Pemuda yang Tertawan Dosanya [ Kisah Mohon Ampunan]

Ilustrasi : Menatap malam

Sahabat, mungkin engkau pernah mendengar orang menandai dirinya dengan istilah 'hamba yang tertawan dosanya'. Apa maksud dari ungkapan ini? Apakah ada kaitanya dengan kisah mohon ampunan?

Aku sekali waktu pernah merenung apa maksud dari istilah ini. Dan suatu ketika aku teringat sebuah acara pesantren kilat di Pondok Pesantren Mahasiswa Daarul Hikmah di Bandar Lampung.

Dalam acara itu aku masih teringat salah seorang pemateri lulusan LIPIA Jakarta, anak seorang Kiyai dan Dai terkenal di Lampung, menyampaikan sebuah kisah yang mengharukan.

Beliau berkisah tentang salah seorang sahabat di zaman Nabi. Suatu ketika Umar bin Khattab kehilangan seorang sahabatnya, sahabat ini tak begitu terkenal namanya. Ia orang biasa saja, namun biasanya ia selalu hadir dan tampak bersama-sama sahabat yang lainya. Tapi kini ia tidak ada, tak kelihatan di antara sahabat-sahabat yang lainnya, Umarpun heran dan mencari-cari keberadaanya.

Hari demi hari Umar bertanya di manakah salah seorang sahabatnya ini, kepada setiap orang ia bertanya, adakah seseorang yang pernah melihatnya?

Hari berganti, minggu berlalu, bulanpun begitu, namun sahabat yang tak terkenal ini belum juga kembali dan menunjukkan diri, Umarpun tak kunjung dapat menemui.
Akhirnya Umar bergegas pergi ke luar kota, meninggalkan Madinah yang dicinta, ia pergi ke desa-desa mencari dan menanyakan keberadaan sahabatnya.

Suatu ketika sampailah ia kesebuah desa yang jauh dari pusat kota, orang-orang dusun di tepi gunung penghuninya. Di situ Umar bertanya adakah warga yang melihat sahabatnya. Tak seorangpun yang mengenal sahabat yang dicarinya atau mengetahui ciri-cirinya. Namun ada seorang kakek tua yang bercerita bahwa ada seseorang yang aneh di daerahnya.

Sang kakek bercerita, ada seorang pemuda penuh misteri, lusuh dan kurus badanya. Ia jarang terlihat di siang hari, tinggalnya di dalam gua di bukit yang tinggi. Setiap malam ia berjalan berkeliling kampung sambil menangis, menepuk-nepuk kepala dengan tangan kanannya, sambil berkata "celakalah aku, celakalah aku".

Begitu terus sepanjang malam, pemuda lusuh ini berjalan sambil menangis dan menepuk-nepuk ubun kepalanya sambil berkata dalam tangisnya "celakalah aku, celakalah aku". Terus setiap malam hal itu terjadi sehingga orang-orang di kampung itu menganggapnya gila, namun hal itu hanya dilakukannya di malam hari sedangkan di siang hari ia tak muncul lagi.

Hari berganti, minggu berlalu, bulanpun begitu. Pemuda itu masih saja melakukan itu. Jika ada seseorang yang hendak menyapa dan menghampirinya ia berlari dan menhindarinya, bibirnya terus merintih dengan tangis, kepala ditepuk dan dipukul dengan tapak tanganya berulang kali. Mulutnya berucap "celakalah aku, celakalah aku".

Umar mendengar kisah sambil menangis, siapakah gerangan pemuda ini? Ia lantas minta ditunjukkan dimana gua tempat tinggal pemuda ini. Iapun ditunjukkan sebuah bukit yang agak jauh dikaki gunung. Kesanalah ia mendaki, jalan kerikil dan berbatu ia tapaki. Sempit celahnya, mendaki terjal jalanya, Umar lelah dalam perjalananya, namun ia terbayang orang yang tinggal di atasnya. Umarpun membayangkan betapa susahnya pemuda yang tinggal di gua itu jika setiap malam ia turun ke desa, melalui jalan sempit, terjal, berbatu, berkerikil tajam. Hal itu menambah Umar heran juga menambah rasa penasaran.

Sampailah ia di mulut gua, dalamnya temaram minim cahaya, Umar ucapkan salam dan menyapa, namun tak terdengar jawab ataupun suara. Umar beranikan diri masuk ke dalam gua, rupanya gua agak panjang masuk ke dalamnya. Samar-samar Umar mendengar suara rintih dan tangis yang sedih. Di ujung sana di balik batu besar yang hitam warnanya, tampak bayang-bayang seseorang bersembunyi dan menangis, rintihanya menyayat hati, tangisnya memilukan sanubari.

Umar menyapa, "assalamualaika ya shohibi..semoga keselamatan atasmu wahai saudaraku.." terdengar tangis semakin mengeras, sosok itu tegetar sembunyi dibatu cadas. Umar kembali sampaikan salam, "asalamualaika ya shohibi..semoga keselamatan atasmu wahai saudaraku..". Namun tangis itu semakin keras, rintih itupun semakin deras.

Umar berjalan mendekatinya, melihat sosok yang menangis di balik batu di hadapanya. Perlahan ia berjalan menghampirinya, namun pemuda itu hendak lari menjauhinya, ia berteriak "celaka aku jangan dekati aku, aku manusia celaka."

Umar menangkap tubuh sang pemuda itu, di pandanginya wajah kuyu itu. Umar menangis tak terkira, inilah sahabat yang lama dicarinya. Pemuda itu meronta dan menangis dalam dekapan Umar, mereka berdua sesunggukan. Lama mereka berdua menangis dalam kepiluan, antara rindu, kalut dan rasa heran.

Lalu Umar berkata perlahan-lahan, bertanya pada sahabatnya yang sedang terisak dalam dekapannya. "Wahai sahabatku ada apa dengan dirimu?" mengguncang lengan Umar di bahu sahabatnya sambil sekali lagi ia bertanya, "Wahai sahabatku ada apa dengan dirimu? Aku rindu padamu kenapa engkau bersedih begitu?"

Isak tangis masih menyesak, rasa pilu masih menyayat. Sang pemuda derungkan tangis tak tertahankan, tanganya mendekap tubuh Umar, tangisnya pecah tak karuan.

Perlahan ia mulai berbicara, dijawabnya pertanyaan Umar meski kelu di lidahnya. "Wahai Umar celakalah aku, aku manusia celaka.." Suara isak masih menderu di tenggorokanya. "Kenapa engkau celaka wahai sahabatku? Apa yang membuatmu celaka?"demikian Umar membalasnya.

"Wahai Umar celakalah aku, apakah Allah mau mengampuni dosaku? Wahai Umar betapa celakanya diriku.." lirih terbata lisan pemuda itu berkata.

Umarpun menjawab, "wahai saudaraku, Allah pasti mengampuni dosa-dosamu. Ketauhilah bahwa Rasulullah ingin mengabarkan kepadamu tentang luasnya Ampunan Allah kepada hambaNya. Rasul menyampaikan firman-Nya, seandainya seorang HambaKu pergi kepadaKu dengan dosa sepenuh langit dan bumi, sedangkan ia tak mempersekutukan Aku dengan sesuatu apapun, maka Aku akan datang kepadanya dengan ampunan seluas langit dan bumi pula, dan Aku tidak peduli lagi dengan dosa-dosanya.." terhenti Umar menyampaikan sabda. Terhenti seketika tangis saudaranya. Sang pemuda berkata, "meskipun seluas langit dan bumi wahai Umar? Apakah Rasulullah berkata demikian?" tersentak sahabat ini bertanya, takjub dengan sabda dari Nabi yang amat dikasihinya.

Umar serta merta menjawab, "Demi Allah, meskipun dosanya seluas langit dan bumi wahai saudaraku, demikianlah yang disabdakan Rasulmu."

Seketika sahabat ini menangis haru, sesunggukan ia menangis pilu. Hatinya mengharu biru, jiwanya serasa terbang ke langit biru.

Umar melanjutkan, "wahai sahabatku, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, "barang siapa seseorang melakukan dosa, lantas ia beristighfar dan memohon ampun denan membaca: "Astaghfirullah aladzi laa ilaaha ila huwal hayulqoyumu wa atubu ilaih..(aku mohon ampun kepada Allah yang tiada Tuhan melainkan hanya Dia, Yang Maha Hidup kekal dan senantiasa mengurus mahkhluk-Nya, dan aku bertaubat kepada-Nya), maka Allah pasti mengampuni dosa-dosanya"

Sahabat inipun berhenti dari tangisnya, binar pandangnya di balik senyum yang merekah dari wajahnya. Iapun melantunkan istighfar dan membaca doa ampunan yang disampaikan Umar. Berkali-kali lisannya beristgfar dan bertaubat dengan taubat yang sebenarnya. Pulanglah mereka berdua dengan hati haru penuh cinta. Rahmat Allah meliputi alam semesta dan Ampunan-Nya melibihi segala yang ada, kasih dan sayang-Nya melampaui kemurkaan-Nya.

Belakangan diketahui, dosa pemuda ini adalah ia tak sengaja melihat wanita bukan mahramnya. Sekilas yang terlihat baginya bagaikan dosa setinggi gunung, sebesar langit dan bumi dosa yang ditanggungnya. Subhanallah, inilah pemuda yang sangat menjaga diri dan takut atas perbuatan dosa. Dosa kecil dianggapnya sebagai dosa besar luar biasa.

Itulah kisah pemuda yang tertawan oleh dosa. Dosanya menawanya dalam kerangkeng penyesalan tak terkirakan, sehingga ia malu bertemu pada sesama, bersesal begitu rupa, berduka dan takut luar biasa.

Seseorang yang tertawan dosanya adalah seseorang yang menyadari bahwa dosanya bisa memasungnya untuk mendapat rahmat-Nya. Merasa keselamatannya terancam akibat dosa-dosanya. Merasa tak jenak dan tak tenang sebelum ampunan didapatkanya. Sehingga ia bertaubat dengan sebenarnya, selalu melakukan perbuatan baik untuk menutupi kesalahanya, dan tak lagi berani sedikitpun mengulangi dosa-dosanya.

Sahabat, mari kita merenung sejenak. Kita pemuda, kita banyak dosa, bahkan dosa kita lebih besar dari dosa sahabat yang menjadi bahan cerita. Mari kita bertaubat, jangan ragu untuk bertaubat, Allah pasti menerima taubat kita. Dan jadilah kita orang-orang yang merasa tertawan oleh dosa-dosa.

Hamba yang tertawan dosanya.
Beni Sumarlin
banner
Previous Post
Next Post

5 komentar:

  1. bahasannya sedikit berat, rada puyeng bacanya, hehehe.... bukan seperti artikel, tapi lebih kayak sajak. hehehe.... bagus tapi.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe..begitulah kawan.
      Makasih sdh mampir dan ninggalin jejak.

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  2. Ceritanya bagus mas Ben, suka suka

    BalasHapus

Follow by Email

Popular Posts