Minggu, 24 Juli 2016

Senangnya Melihat Anak Gemar Mengaji


Muhammad Ayas Akif Wahid (kiri) sedang diajari membaca Iqro sama abinya

Libur lebaran saya benar-benar manfaatkan untuk silaturahim dan berkumpul dengan keluarga di Lampung. Bertemu dengan sanak saudara memang memiliki kesan tersendiri yang membahagiakan. Terlebih saat saya melihat adik-adik dan ponakan saya ternyata adalah anak-anak yang pintar, sholeh dan sholihah..hehe.

Selain itu, ada kelompok pengajian TPA saya di kampung yang juga sangat gemar mengaji di masjid, mereka sangat menantikan pembina dan guru ngaji yang membimbing mereka.

Memiliki generasi yang sholeh dan sholehah tentu menjadi harapan setiap orang tua. Saya yang memiliki banyak keponakan dan murid TPA sangat gembira saat melihat mereka ternyata termasuk anak-anak yang rajin mengaji dan rajin sekolah. Melihat mereka mengaji dan patuh kepada orang tuanya membuat perasaan saya gembira. "Ada harapan di masa depan bagi bangsa dari anak-anak sholeh ini," demikian ujarku dalam hati.


Orang tua muslim mana yang tidak senang melihat anaknya rajin ke masjid dan pintar mengaji? Tentu semuanya sukakan? Masih kecil ponakan saya ternayata pintar mengaji dan rajin ke masjid, dan pada saat ke masjid mereka tertib tidak mengganggu jamaah yang lainya. Wah prestasi yang patut di beri acungan jempol deh.

Agar anak gemar mengaji
Menurut pengamatan secara langsung kepada murid-murid TPA dan keponakan-keponakan saya, faktor utama yang mendorong anak gemar mengaji adalah faktor orang tua dan yang kedua lingkungan. Saya ingin cerita tentang keponakan saya yang pertama bernama Bima Aleya Putra, masih sekolah kelas 1 SD.

Bima Aleya Putra (kanan) sedang diajari ayahnya mengaji.

Bima merupakan anak yang rajin ke masjid, bersama ayahnya ia selalu ke masjid melaksanakan sholat 5 waktu, bahkan sholat subuhpun ia pergi ke masjid. Untuk anak seusia dia, menurut saya bacaan Al-Qur'anya sudah cukup bagus, panjang pendek dan cara melafalkan huruf sudah baik. Hafalan surat pendeknya banyak, bahkan menjelang puasa kemarin ia telah merambah menghafal surat An-Naba yang jumlah ayatnya 40 ayat. Lumayan hebatkan? Kalau hafalanya sudah sampai An-Naba, terhitung dari surat terakhir yakni An-Nas, artinya dia sudah hampir hafal 1 juz yakni juz 30.

Ponakan saya yang kedua bernama Muhammad Ayash Akif Wahid. Panggilanya Ayas, dia memang anaknya seorang guru ngaji, karena abinya, yakni kakak saya sendiri, merupakan seorang guru ngaji dan penghafal Al-Qur'an. Ayas masih sekolah TK, tapi setiap habis maghrib dia sudah terbiasa mengaji dan memang ia suka sekali mengaji. Kalau habis sholat jamaah maghrib di masjid, sampai di rumah ia pasti minta ngaji. Ngajinya masih Iqro, tapi bacaan hurufnya bagus dan cepat nangkap pelajaran dari abinya.

Ayas selalu dididik dengan kalimat sholih, sikap dan sopan santunyapun diajarkan berdasarkan kalimat itu. "Kalau begini gak sholih lho nak," "Nah, ini sholih," "Ayas jangan, itu ndak sholih, gak boleh ya," demikian kalimat-kalimat yang digunakan Umi dan Abinya. Kalau sudah mendengar kalimat itu, Ayas selalu menurut, bahkan jika ia melihat orang lain melakukan tindakan tidak baik menurutnya, maka ia akan mengatakan, "ih itu ndak sholih," "ih, kamu itu ndak sholih begitu, gak boleh." Hehe. Semoga benar-benar menjadi anak yang sholeh.

Saya perhatikan kunci pendidikan pada Bima dan Ayas ini ada pada kedua orang tuanya, terutama ibunya. Bima memang dididik langsung oleh ibunya yang rajin mengajarinya mengaji. Ibunya pintar membaca Al-Qur'an dan ia wariskan kepada Bima. Setiap habis maghrib, Bima belajar mengaji dimulai dari buku Iqro' dan menghafal berulang-ulang. Ayahnyapun mendukung kegiatan mengaji bagi Bima ini, setiap Bima mengaji, Ayah Bima selalu mendampinginya dan ikut mengaji pula.

Begitu juga dengan Ayas, Umi dan Abinya merupakan orang-orang yang gemar membaca Al-qur'an dan termasuk dai yang sering mengisi pengajian. Uminya Ayas adalah pendidik yang telaten dan rajin, menerapkan aturan secara ketat. Ayas sangat patuh dengan kedua orang tuanya dan sangat suka belajar mengaji. Ayas punya permainan dari tablet yang isinya cara membaca Alqur'an, saya pertamakali melihatnya bermain tablet agak heran, "Kok orang tuanya membolehkannya bermain tablet," demikian fikir saya. Namun ternyata setelah dilihat dengan seksama, ternyata ia sedang bermain kata dalam bahasa Al-Qur'an, huruf-huruf hijaiyahlah yang sedang ia pencet-pencet di tablet itu serta mendengarkan suaranya.

So, kalau ingin anak gemar membaca Al-Qur'an dan menjadi sahabat Al-Qur'an yang didiklah mereka dengan Al-Qur'an, orangtuanya harus mensupport dan mengajarinya dengan rutin di rumah. Keponakan saya yang lain masih banyak, tapi saya tak sempat menemui mereka satu persatu, tapi kabarnya mereka juga gemar membaca Al-Qur'an karena didikan orangtuanya dan mengikuti pengajian TPA di Masjid. Semoga anak-anak kaum muslimin merupakan anak-anak yang gemar membaca Al-Qur'an dan menjadi sabahat Al-qur'an. Amiin.
banner
Previous Post
Next Post

9 komentar:

  1. Menginspirasi Mas Beni. Terima Kasih Sharingnya.

    Tindakan paling rill untuk merubah keadaan bangsa ini adalah dimulai dari keluarga.

    Bersahabat dengan AL-Qur'an adalah Cita-cita kita bersama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas. Semoga keluarga-keluarga indonesia bisa menjadi keluarga yg dekat dg Alqur'an.
      Terimakasih atas kunjunganya.

      Hapus
  2. banyak pendidikan agama tidak diimbangi pendidikan sosial, dan tidak didampingi pendidikan keluarga, karenanya para pendidik agama terkesan berjuang sendiri untuk memperbaiki moral anak.... :(



    jejak lah www.akutau.com

    BalasHapus
  3. Yang aku tangkap berarti ortu harus memberikan contoh dan membimbing ya mas ben. Musti bljar ngaji lagi nih ๐Ÿ˜‚

    BalasHapus

Follow by Email

Popular Posts