Kamis, 04 Agustus 2016

Saat Buku Turun ke Jalan

Buku yang tampak tersusun di koridor jalan di Mega Mall Bengkulu. Tampak seorang pengunjung sedang memilih buku

Bagi para mahasiswa dan aktivis kampus, istilah turun ke jalan merupakan suatu hal yang familiar dan telah menjadi makanan sehari-hari bagi mereka. Nah, kali ini bukan hanya mahasiswa saja yang turun ke jalan, namun buku juga turun ke jalan.

Saat buku turun ke jalan, fenomena ini mungkin sering sobat temui di toko-toko buku dan tempat-tempat penjualan buku. Saya dapati fenomena ini di Mega Mall Kota Bengkulu, hampir setiap bulan buku-buku turun ke jalan.

Ini adalah salah satu program Toko Buku Gramedia Bengkulu yang menjajakan buku-buku di lorong jalan atau koridor dalam gedung Mega Mall yang terletak di kompleks pasar KZ Abidin II Kecamatan Ratu Samban Kota Bengkulu.

Saya telah berkali-kali mendapati tumpukan buku-buku berderet-deret di dalam Mega Mall saat saya sengaja ingin mengunjungi Gramedia untuk sekedar mengupdate pengetahuan tentang buku-buku terbaru yang terbit dan buku-buku best seller setiap bulannya.
Pernah saya sempatkan waktu satu jam lebih untuk mengecek buku apa saja yang turun ke jalan ini. Kebanyakan buku-buku yang turun kejalan ini adalah buku-buku lama yang belum terjual. Mulai buku tentang agama, pendidikan, berbagai keterampilan pertanian, novel lawas, cerpen, dan komik untuk remaja serta buku anak-anak banyak sekali tersedia. Tentu dengan harga diskon bagi semua buku ini menyebabkan harganya cukup murah. Biasanya diskon yang diberikan mulai dari 20 % - 50 %, bahkan 70 %.

Namun menurut saya, jika dilihat dari kualitas berbagai buku yang turun ke jalan itu nampak masih banyak yang bagus dan layak di beli, makanya kadang sayapun membeli beberapa buku yang menarik dan saya perlukan.

Di sisi lain saya terkadang berfikir, buku-buku stok lama cukup banyak yang tidak laku sampai-sampai harus turun ke jalan dan melantai di koridor mall dan akhirnya banyak buku-buku diskon murah yang dipajang sepanjang bulan untuk menarik pengunjung. Hal ini menunjukkan peminat buku di Bengkulu ini sangat minim. Hal itu terbukti juga dengan minimnya pengunjung di areal penjualan buku-buku ini meskipun sudah diskon besar-besaran.

Sehingga saat itupu seolah saya mendengarkan buku-buku turun kejalan dan berunjuk rasa meneriakkan aspirasi mereka, "Baca aku, ini aku turun untukmu, segala ilmu ada padaku, jangan kau abaikan aku," demikian bunyi tuntutan mereka, atau bahkan spanduk yang mereka bentangkan adalah: "Tatkala kau abaikan ilmu maka tunggu saja kehancuranmu," waw..ngeri.hehe.

Jika mahasiswa sering turun ke jalan meneriakkan aspirasi mereka dan menyampaikan gagasan mereka maka apalah jadinya jika ilmu mereka minim disebabkan minimnya bacaan mereka. Apalah jadinya jika para penguasa dan pengambil kebijakan yang tak memiliki ilmu dalam mengurus negara dan pemerintahanya gara-gara tak pernah baca?

Nah, semoga aspirasi buku yang turun ke jalan bisa menjadi renungan dan evaluasi bagi kita semua. Mari baca buku, jangan abai terhadap ilmu.
banner
Previous Post
Next Post

2 komentar:

  1. minimnya bacaan seseorang karena harga buku di negara ini cenderung sangat tinggi, padahal buku adalah gudang ilmu, jika pemerintah mengarahkan subsidinya ke sektor ini mungkin makin banyak koleksi buku dirumah, hahha....

    BalasHapus
  2. Bisa jadi.. semoga pemerinth punya itikad untuk itu.
    Terimakasih sdh berkunjung

    BalasHapus

Follow by Email

Popular Posts