Sabtu, 17 September 2016

Kemurnian, Makna Berkurban di Hari Raya Kurban

Sapi kurban dari Presiden Jokowi untuk masyarakat Bengkulu yang akan disembelih oleh pengurus Masjid Baitul Izzah Bengkulu
Sahabat, selain kegembiraan di hari raya ada syariat untuk berkurban, apa hakekat yang kita dapatkan dari berkurban ini? Berkurban pada dasarnya adalah mempersembahkan hewan sembelihan kepada Allah SWT. Seorang pengkurban memurnikan niatnya untuk mengurbankan seekor hewan yang ia persembahkan kepada Allah SWT. Ajaran ini diketahui didapatkan pada kisah Nabi Ibrahim AS.

Kalau kita perhatikan, dalam Nabi Ibrahim a.s., ditemukan sebuah ketaatan yang luarbiasa dan kemurnian segala orientasi hanya kepada Allah SWT. Nabi Ibrahim selaku orang tua, yang dalam strkutur rumah tangga adalah posisi kedudukan tertinggi sebagai seorang kepala rumah tangga, memurnikan ketaatan dan ketergantungannya hanya kepada Allah SWT.

Begitu juga Ismail, seorang anak yang dalam kedudukannya sebagai anak harus taat kepada orang tuanya, namun kepatuhan dan ketaatanya ini didasari oleh petundukannya atas perintah Allah SWT, maka Ismail bersedia dengan tegar untuk disembelih oleh ayahnya lantaran taat menjalankan perintah dari Allah SWT.
Begitu juga Hajar, sang ibu yang tak memberikan perlawanan sama sekali saat sang anak tercinta hendak disembelih oleh suaminya sendiri. Ia tak menjadi perintang pelaksanaan perintah dari Allah SWT.

Sungguh keluarga ini ada contoh semurni-murni ketaatan kepada Allah SWT. Sang ayah menggantungkan diri kepada Dzat yang maha kuasa atas dirinya yakni Allah SWT, sang ibu dan sang anak yang juga membenarkan perintah Tuhannya dan taat menjalankan perintah tersebut meski beban berat harus ditanggung dan perasaan ego diri harus diabaikan sama sekali.

Tak terbayangkan kemurnian cinta mereka kepada Allah SWT, tak terlogikakan besarnya ketundukannya kepada perintah Allah SWT. Betapa mereka adalah contoh manusia-manusia agung yang luar biasa, yang logika dan nuraninya mampu dilampaui ketika dihadapkan pada perintah Tuhannya meski perintah itu tak masuk akal dan tampak tak berperasaan bagi mereka.

Maka apakah kita beranipula bertindak sebagaimana Ibrahim dan keluarganya? Ketika kita dihadapkan pada perintah untuk tunduk dan taat, apakah kita masih mementingkan kesenangan lain dan menuruti nafsu sehingga abai atas perintah tersebut?

Mari berlajar dari keluarga Ibrahim, mentauladaninya, mumpung momentum saat ini adalah moment disaat orang-orang berkurban sebagaimana ajaran Ibrahim yang diperintahkan untuk menyembelih anaknya, Ismail, namun kemudian diganti dengan seekor kambing kibas dari sisi Allah SWT sebagai kurban yang dipersembahkan menggantikan Ismail.

Wallohua'lam.
 

banner
Previous Post
Next Post

0 komentar:

Follow by Email

Popular Posts