Senin, 12 Desember 2016

Bukan Kebetulan Festival Batik Nusantara di Bengkulu Antara 411 dan 212

Salah satu peserta Karnaval Batik Besurek (sumber : mildaini.com)




Hidup ini memang semuanya ada yang mengatur, tak ada yang kebetulan dalam setiap kejadian dalam hidup ini, semua diatur oleh Allah SWT, Rabb Semesta Alam. Hanya saja manusia memiliki istilah "kebetulan" yang menggambarkan keterbatasan jangkauan akal insaniah manusia pada peristiwa di luar rencananya.

Baru-baru ini Indonesia riuh dengan peristiwa bersatunya umat islam di Indonesia menentang penistaan ulama dan ayat Al Qur'an (Al Maidah : 51) oleh Gubernur DKI Jakarta non aktif, Basuki Tjahaya Purnama. Hampir semua warga negara yang mengikuti perkembangan informasi mengetahui kasus penistaan tersebut.

Hampir seluruh umat islam bersatu mendukung Fatwa MUI yang menyatakan Ahok telah melakukan penistaan, sehingga menghadirkan gelombang besar protes dan desakan kepada penegak hukum agar segera menangkap Ahok dan memprosesnya sesuai hukum perundang-undangan yang berlaku. Hampir disetiap daerah melakukan unjuk rasa mendukung gerakan inipula.

Bersatunya opini publik tentang penistaan Al-quran dan ulama ini mengantarkan kondisi bangsa Indonesia membicarakan tentang islam. Ayat Al Maidah 51 banyak dibahas dan dikaji. Bang Karni di TV One pun mengangkat diskusi ILC dengan pembahasan tentang kasus penistaan ini.

Setelah aksi massa besar umat islam pada 411 (4 November 2016) lalu, ada agenda lain yang secara kebetulan menyimpan makna nilai keislaman pula. Yakni Festival Batik Nusantara di Bengkulu. Acara ini dilakukan mulai tanggal 18 - 20 November 2016.

Dimana nilai keislamannya? Kita temukan nilai ini pada tempat tuan rumah penyelenggaranya, yakni Bengkulu yang memiliki motif batik khas Besurek Bengkulu.

Salah satu peserta Festival Batik Besruek di Bengkulu (sumber : mildaini.com)

Batik Besurek Bengkulu memilik motif khas dan ini dipamerkan dengan sangat elegan saat Festival Batik Nusantara. Festival yang bersamaan dengan hari jadi Kota Bengkulu ini dimeriahkan dengan Karnaval Batik Besurek oleh ribuan warga Bengkulu berjalan sejauh kurang lebih 2 kilometer. Sehingga batik besurek semakin dikenalkan kepada publik.

Dimana nilai keislamannya? Nilainya adalah pada motif batik besurek itu sendiri. Morif besurek adalah motif perpaduan kaligrafi Al Quran dengan gambar bunga Rafflesia yang sedang mekar.

Guratan kaligrafi islami inilah yang kemudian mencirikan Batik Khas Bengkulu. Meski guratannya tidak sempurna seperti ayat-ayat Al Qur'an, namun simbol - simbol huruf tulisan arab ini mencolok dan menjadi ciri khas batik besurek. Ada nuansa islaminya pada motif batik besurek.

Dan motif islami inilah yang menjadi 'raja' (tuan rumah) dalam perhelatan Festival Batik Nusantara tahun 2016 ini. Sekali lagi, opini tentang islam mengemuka memenangkan opini lain meski dalam bentuk yang berbeda, yakni opini pada motif batik.

Memang nampak kebetulan atau seperti dicocok-cocokkan, namun tak ada yang kebetulan di dunia ini, semua ada yang mengaturnya. Seperti peristiwa 212 yang lalu. Berbagai hal luar biasa terjadi yang nampak seperti kebetulan, namun semua berjalan sesuai kehendak Allah SWT.

Wallohua'lam.
banner
Previous Post
Next Post

0 komentar:

Follow by Email

Popular Posts