Sabtu, 31 Desember 2016

Buku Negara dan Bandit Demokrasi Kritik Tajam Kondisi Saat Ini

Menjelang akhir tahun ini saya ingin mengulas sebuah buku yang saya baca mengenai Negara dan Bandit Demokrasi yang ditulis oleh seorang pakar sinologi Universitas Indonesia yang sekaligus pimpinan sebuah lembaga kajian negeri Tiongkok, Ignatius Wibowo.

Sedikit keluar dari tema, buku berjudul Negara dan Bandit Demokrasi yang tak begitu tebal ini merupakan buku terakhir yang saya lahap pada tahun 2016 ini setalah buku berjudul Abal Abal Produk Cina tulisan Paul Midler. Alhamdulillah selama satu tahun terakhir, disamping kesibukan yang ada, saya telah menamatkan kurang lebih 20 judul buku dan beberapa jilid novel yang saya gemari. (Ini masih terlalu sedikit untuk ukuran waktu selama satu tahun..hiks)

Dua jilid Tafsir Ibnu Katsir, Dua Jilid Tafsir Fi Zilalil Qur'an, Dua jilid Siroh Khulafaurosyidin, Lapis-Lapis Keberkahan Ustadz Salim A Fillah, Dua buku tentang Geo Politik, Dua Buku Tulisan Prof. Hazairin, dua buku tulisan Anis Matta dan satu buku tulisan Jazuli Juwaini dari seorang teman, satu buku puisi tulisan Dodo Diana (Ketua Ambin), dua buku cerita sejarah Bengkulu tulisan Pak Elvi Ansori, buku Ring of Fire dan buku keajaiban laut disekitar khatulistiwa (yang dipinjam teman belum dikembalikan hehe), dan kurang lebih ada duapuluhan ebook novel berlatar sejarah, serta terakhir sebagai penutup tahun 2016  yaitu buku Abal Abal Produk Cina dan buku Negara dan Bandit Demokrasi.

Kembali kepada pembahasan buku Negara dan Bandit Demokrasi. Buku ini merupakan kumpulan opini yang diterbitkan oleh Kompas, khususnya opini yang ditulis oleh I. Wibowo. Saya tertarik membaca buku ini saat penulis memaparkan dibagian pertama mengenai diskursus mengenai Demokrasi berdasarkan penelitian tesis beberapa ilmuan dunia.

Dibuka dengan judul tulisannya Apakah Kerusuhan Anti Tionghoa Akan Meledak Lagi? Wibowo memaparkan hipotesis Amy Cua seorang Profesor dari Yale University dalam bukunya Word on Fire. Dimana Amy Cua menyebutkan dimana ada sekelompok etnis yang mendominasi pasar sekaligus ada sistem politik yang menganut demokrasi dinegara tersebut, bisa diramalkan akan terjadi seranga terhadap kelompok minoritas.

Pemaparan Amy Cua didasari atas penelitianya dibeberapa negara, seperti di Zimbabwe, Indonesia, dan Venezuela. Ending dari paparanya adalah sistem pasar bebas saat ini yang berkolaborasi dengan sistem demokrasi bisa menuai konflik antara minoritas asing yang menguasai pasar dengan mayoritas pribumi yang menguasai politik.

Kemudian Wibowo melanjutkan pemaparan dari seorang ilmuan lain, Oslon yang menjelaskan tentang bandit. Yakni bandit menetap (stationary bandits) dan bandit mengembara (roving bandits).

Dalam teori ini Oslon menjelaskan setelah tumbangnya rezim otoritarian dan berbaganti dengan sistem demokrasi maka muncul bandit-bandit baru yang menguras kekayaan negara. Rezin otoritarian diidentikkan dengan bandit menetap, dan demokrasi dengan bandit mengembara. Bandit menetap merampok kekayaan negara secara sedikit demi sedikit tidak menguras langsung, sedangkan bandit mengembara menguras kekayaan negara secara brutal.

Pemaparan Oslon yang diketengahkan Wibowo menyimpulkan setelah sistem otoriter atau totaliter runtuh dan berganti sistem demokrasi maka koruptor semakin merajalela. Jika sebelumnya para penjahat (koruptor) dikuasi (ditekan dan didominasi) oleh satu tokoh kuat saja, maka setelah tokoh kuat ini terguling maka penjahat lain ibarat keluar dari sarang dan menyebar tanpa terkendali, mereka melakukan kejahatan dalam ruang demokrasi yang serba bebas seperti sekarang ini.

Masih ada paparan lain yang disajikan Wibowo dalam buku tersebut termasuk beberapa tanggapan dari penulis lain yang mengkritik tulisannya. Namun yang menarik bagi saya adalah dua teori yang saya sebutkan diatas. Mengenai orang asing yang menguasai pasar bebas dan para bandit yang bergerak bebas.

Minoritas asing di negeri ini yang menguasai berbagai korporasi dan perusahaan di Indonesia sekarang tampak mulai bergerak untuk memanfaatkan demokrasi untuk menguasai paggung politik. Munculnya tokoh-tokoh Tionghoa dipanggung politik merupakan fenomena tersebut. Bahkan tokoh-tokoh ini mulai secara intens merangkul penduduk mayoritas di Indonesia untuk mendulang dukungan.

Di sisi lain, para bandit koruptor masih saja bermunculan. Berbagai kasus korupsi masih saja terjadi diberbagai bidang. Lembaga anti rasuah sampai saat inipun masih memiliki PR banyak dalam menangani kasus-kasus korupsi, dari korupsi yang jutaan sampai milyar bahkan triliunan.

Entah kapan kondisi ini akan membaik. Apakah ditahun-tahun mendatang kondisi Indonesia akan semakin demokratis ataukah akan semakin mundur dan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara semakin hancur? Wibowo dalam tulisannya berharap ada demokratisasi dalam demokrasi kita. Demokrasi kita perlu diperbaiki.

Semoga negeri ini mampu bertahan dan melewati ujiannya.
banner
Previous Post
Next Post

0 komentar:

Follow by Email

Popular Posts