Minggu, 11 Desember 2016

Nasehat Menyentuh dari Sahabatku



Sobat, kita sesungguhnya selalu membutuhkan nasehat dari orang lain disekitar kita. Nasehat merupakan hal yang tak bisa kita abaikan dalam perjalanan hidup kita mengarungi kehidupan ini. Tanpa kita sadari terkadang setiap tindakan kita dipengaruhi oleh nasehat dari orang lain.

Saat kita sedang merencanakan sesuatu, baik rencana yang sederhana maupun rencana yang rumit, terkadang kita bertanya atau sekedar mengungkapkan apa yang kita rencanakan itu kepada orang lain, baik disengaja ataupun tidak disengaja. Dan pada saat itu, kita mendengarkan respon atau pendapat orang lain atas rencana itu.

Nah pada posisi ini, setelah berkomunikasi dengan orang lain, otomatis fikiran kita telah terpengaruh dan melakukan pencernaan atas pendapat orang lain tersebut. Atas respon orang lain dan pendapat mereka ini, kita kemudian memutuskan rencana yang akan kita lakukan, apakah tetap pada rencana pribadi, atau ada modifikasi rencana, atau bahkan membatalkan rencana tersebut.

Begitu juga sebaliknya, mungkin kita juga sering dimintai pendapat orang lain atau bahkan secara sengaja tanpa dimintai pendapat, telah merespon ungkapan orang lain yang kemudian mempengaruhi keputusan orang lain.

Nah dalam tahap tersebut, sesungguhnya telah terjadi proses nasehat menasehati, itulah sesungguhnya salah satu hakekat hidup bersosial yang baik. Sikap saling menasehati menunjukkan kepedulian dan empati diantara kita. Dan sesungguhnya inti sumber nilai yang menjadi rujukan sikap saling nasehat menasehati adalah agama dan kebenaran universal.

Dalam islam, kedudukan nasehat-menasehati ini sangat penting, bahkan menjadi bagian dari agama. Rasulullah SAW bersabda didepan para sahabatnya, 
"Agama  adalah  nasehat",  sahabat  berkata  :  "Kepada  siapa?"    beliau  bersabda  :  "Kepada Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya dan kepada pemimpan kaum muslimin dan rakyatnya." (Riwayat Bukhori dan Muslim)

Memberi nasehat hukumnya wajib sesuai kemampuannya, dan agama  Islam  berdiri  tegak  diatas  upaya  saling  menasihati,  maka  harus  selalu  saling
menasihati diantara masing-masing individu muslim agar setiap muslim selamat dan terus bisa mengerjakan kebaikan serta senantiasa berada pada posisi kebenaran.

Beberapa waktu lalu, saya dikunjungi oleh seorang sahabat lama dari Lampung. Ia adalah salah seorang aktivis dakwah dan dulu kami bersama-sama berjuang di KAMMI Lampung. Beliau ada keperluan di Bengkulu dalam rangka menunaikan tugas kantor tempatnya bekerja. Dalam dua kali kesempatan bertemu, saya berusaha mengambil manfaat pertemuan itu dan berusaha menggali nasehat darinya.

Tiga hal yang saya dapatkan dari pertemuan itu yang saya ambil sebagai nasehat. Yang pertama yaitu keistikomahan dalam berjuang dan mengerjakan suatu pekerjaan. Al akh sahabat saya ini, merupakan pekerja yang istikomah, mulai dari tingkat pegawai biasa sampai saat ini telah menjadi pimpinan cabang/wilayah sebuah lembaga kemanusiaan yang ternama. Keistikomahan dalam bekerja dan berjuang yang beliau praktikkan inilah yang membuatnya mampu bekerja dan menduduki posisinya saat ini.

Yang kedua, selalu menjaga tali silaturahim. Saat rencana keberangkatannya ke Bengkulu, Al Akh sahabat saya ini memberitahu saya bahwa ia akan ke Bengkulu dan ingin kopdar (Kopi Darat). Dan sesampainya di Bengkulu, iapun langsung menghubungi saya dan berdua kami mengatur kapan waktu pertemuan. Tak hanya saya, rupanya iapun berkeinginan sekali untuk bersilaturrahim dengan salah seorang guru kami semasa masih di Lampung dahulu. Namun sayang, pertemuan dengan guru kami tersebut tidak berhasil dilakukan disebabkan kendala cuaca dan kesibukan lain.

Semangat menyambung silaturrahim yang ada pada sahabat saya memberikan gambaran betapa ia ingin selalu berhubungan baik dan membangun ukhuwah dengan orang-orang yang pernah dikenalnya.

Yang ketiga, dan ini yang paling berkesan bagi saya, meski mungkin ia menyampaikannya tidak dengan sengaja. Saat hari terakhir sebelum meninggalkan Bengkulu, kami sempat berbincang-bincang. Ungkapan terakhir yang menyentuh diri saya adalah manakala ia mengatakan,

"Kawan-kawan kita beberapa telah meninggal di usia muda,(_ia menyebutkan beberapa nama yang telah meninggal_) bahkan ada yang usianya berada dibawah usia kita, betapa kematian dari orang-orang yang kita kenal dekat dengan kita itu begitu terasa berpengaruh di jiwa ketimbang materi dzikrul maut yang sering kita dengar, mati tak memilih usia.."

Sampai disitu saya tidak fokus lagi mendengar apa yang ia ungkapkan. Meski ia sampaikan ungkapan itu sambil tertawa untuk menutupi kesan sedih, namun hati saya langsung terhenyak, dan tak mampu berkata apa-apa, hanya senyum yang bisa dilakukan dengan persaan yang susah diungkapkan.

Dalam hatiku timbul pertanyaan, Apakah kami akan berjuang sendiri menapakai jalan dakwah ini? Ataukah akan segera menyusul dikemudian hari?

Dalam perjalanan pulang, setelah mengantarkan sahabat saya tersebut ke hotel penginapannya, saya akhirnya pasrah kepada Allah SWT, apapun yang Allah tetapkan atas kawan-kawan saya, keluarga, bahkan diri saya sendiri semuanya atas kehendak-Nya, dan Ia tak mungkin menyianyiakan hamba-hamba-Nya. Saya hanya akan berupaya sekuat tenanga menjalani proses yang terbaik yang bisa saya lakukan. Demikian azzam saya.

Tiga nasehat ini menarik bagi saya dan semoga bermanfaatpula bagi sobat-sobat pembaca. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dan menteladaninya.

"Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian,
 kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran. (Al-Ashr : 1-3)
banner
Previous Post
Next Post

2 komentar:

  1. Nasehat yang sangat berharga di tengah lalu lintas kehidupan yang cepat saat ini.

    Terima kasih telah berbagi Mas Ben.
    Barokaullohhu Fiikum

    BalasHapus
  2. Sama-sama mas rio, semoga menjadi pengingat bagi kita semua.

    BalasHapus

Follow by Email

Popular Posts