Selasa, 31 Oktober 2017

Dua Rumah yang Berbeda, Pilih yang Mana?


Ilustrasi. Cretive.com

Sobat, siapa saja tentu memerlukan rumah untuk tempat tinggal. Memiliki rumah yang nyaman, aman, sejuk, indah dan layak ditempati merupakan pilihan yang diinginkan siapa saja. Bahkan mungkin sebagian dari kita ada pula yang mendambakan rumah yang megah dan mewah. 

Tak ada yang melarang seseorang memiliki rumah megah dan mewah. Bahkan salah satu sarana orang bisa menikmati hidup dan berbahagia adalah memiliki rumah yang luas. Rumah yang luas akan memberikan sudut pandang yang luas pula bagi penghuninya, berbeda dengan rumah yang sempit,  jarak pandang mata tentu mentok membentur dinding – dinding ruangan pada jarak yang pendek.. Hehe.

Orang cenderung merasa jenuh jika terus menerus berada di dalam ruangan yang sempit, dan akan merasa lebih nyaman ketika berada di tempat yang luas. Beraktivitas di tempat terbuka cenderung lebih mengasikkan dari pada beraktivitas di dalam ruangan terus menerus. 

Seseorang yang ingin menyegarkan diri tentu mencari tempat terbuka, melihat pemandangan di alam terbuka dengan sudut pandang sejauh pandangan matanya.

Nah, Pilihan sebuah rumah yang akan ditempati menjadi sangat penting ketika berbicara masalah kenyamanan dan pembentukan suasana hati serta kejiwaan penghuninya. Alam fikiran dan perasaan seseorang bisajadi dipengaruhi oleh tempat dimana dia tinggal.

Namun, kalau melihat dari luas atau sempitnya sebuah rumah, juga mewah atau sederhananya sebuah rumah, tentu ini berkaitan dengan faktor ekonomi masing-masing penghuni. Orang yang memiliki uang banyak atau orang berduit alias orang kaya, tentu akan mampu memiliki rumah mewah dan luas karena uang yang dimilikinya mampu memenuhi hal itu.

Namun bagi orang dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah tentu tidak mudah memiliki rumah yang seperti itu. Lantas apakah ini artinya orang miskin dan menengah ke bawah tidak akan mendapatkan kenyamanan dan keluasan pandangan karena tidak luasnya rumah yang mereka tinggali?

Tentu tidak demikian.  Belum ada garansi jika rumah luas dan mewah lantas orang yang menempatinya akan bahagia dan memiliki perasaan yang bahagia. Belum tentu juga orang yang rumahnya sempit kehidupannya pun terasa sempit.

Nah dalam hal ini saya coba ingin mengetengahkan  fenomena dua rumah. Fenomena dua rumah ini bisa jadi mempengaruhi tingkat kebahagiaan penghuninya. Anda mau pilih yang mana? Mari kita perhatikan ulasan berikut ini.

Antara Dua Rumah
Rumah pertama mendatangkan banyak kebaikan, mahluk – mahluk istimewa senang sekali mendatanginya, dan mahluk – mahluk buruk pergi meninggalkannya.  Rumah kedua kesesakan dirasakan penghuninya, kebaikanya berkurang terus dan menjadi sangat sedikit, mahluk – mahluk buruk mendatanginya dan mahluk – mahluk istimewa keluar menjauhinya.

Ini bukan perihal rumahnya sempit atau rumahnya mewah dan luas. Hal tersebut bisa saja terjadi pada rumah yang kecil atau rumah yang besar lagi megah.

Bagaimanakah kiranya dengan rumah pertama? Jika rumah tersebut luas dan megah, dari dalamnya mengundang banyak kebaikan, mahluk – mahluk istimewa terus menerus mendatanginya, mahluk buruk yang membawa keburukan pergi keluar darinya, tentu ini menjadi rumah paling nyaman untuk ditempati. 

Orang yang tinggal di dalamnya akan merasa bahagia, dan bisajadi rumah ini menjadi titik tolak banyak aktivitas kebaikan yang dilakukan penghuninya saat beraktivitas di luaran. Rumah yang menjadi titik tolak kebaikan dan tersebarnya banyak kebaikan karena di dalamnya berkembang dan tumbuh sumber-sumber kebaikan dan terusirnya sumber – sumber keburukan. Inilah rumah yang pertama.

Rumah yang kedua, merupakan rumah yang tiba-tiba sumber-sumber kebaikan pergi meninggalkanya diganti dengan datangnya sumber – sumber dan benih-benih keburukan. Kebaikan semakin sedikit, yang menempati merasa sempit, dan keburukan datang menghimpit.

Rumah kedua ini bila terus begini akan menjadi tempat bereproduksinya keburukan dan menjadi titik tolak tersebarnya berbagai keburukan. Hal ini disebabkan oleh tumbuh dan berkembangnya benih – benih keburukan di situ. 

Rumah terasa membara, meski AC dihidupkan di mana-mana, suram dan kegelapan menyelimutinya meski lampu terang menyala. Penghuni ribut tak tentu alasanya, pandanganya sempit jiwapun merana. Tak betahlah tinggal di dalamnya.

Anda pilih yang mana ?

Tentu kita mendamba yang pertama bukan? Meski mungkin sebuah rumah kecil dan sederhana jika tumbuh kebaikan di dalamnya, menjadikan nyaman orang yang menempatinya, menjadi titik tolak berbagai kebaikan menyertai penghuni serta lingkungannya, tentu kita akan memilih yang demikian itu. Apalagi jika rumah tersebut merupaka rumah yang luas lagi megah, wah tentu ini menjadi hal yang istimewa.

Bagaimana kita bisa mendapatkan suasana rumah yang seperti ini? Dan bagaimana pula suasana rumah kedua itu bisa terbentuk?

Mari kita perhatikan tuntunan dari sosok yang mengikuti petunjuk utusan Sang Maha Tau dan Maha Kuasa.

“Abu Hurairah r.a. berkata, “rumah yang di dalamnya dibacakan Al-Qur’an menjadi banyak kebaikannya, para malaikat mendatanginya, dan setan keluar dari rumah tersebut. Sedangkan rumah yang didalamnya tidak dibacakan Al-Qur’an penghuninya merasakan kesempitan, kebaikannya menjadi sedikit, setan- setang mendatanginya, dan para malaikat keluar dari rumah tersebut.” (Disebutkan oleh Al Hafidz Hartanto Saryono,Lc dalam buku Tajwid Al-Qur’an Riwayat Hafsh dari ‘Ashim ; Diriwayatkan oleh Ibnu Al-Mubarak di dalam kitab Az-Zuhud).

Al-Qur’an adalah sumber kebaikan, ketika ia dibaca maka akan tumbuh kebaikan. Malaikat adalah mahluk – mahluk istimewa yang membawa kebaikan, merekapun akan datang terpanggil masuk kedalam rumah yang di dalamnya dibacakan Al-Qur’an. Sumber kebaikan mengalir, benih – benih kebaikan tumbuh, berbagai kebaikan berkembang dan menebar di dalam rumah sampai kesudut-sudut ruangan.

Dari sinilah penghuni merasai kenyamanan dan ketentraman, kesejukan dan kebahagiaan. Al-Qur’an dibacakan dikala siang ataupun malam, penghuninyapun mengamalkannya dalam kehidupan.

Sebaliknya, mahluk – mahluk buruk berdatangan saat tak ada sama sekali bacaan Al-Qur’an. Sumber keburukan datang dan berkembang membuat penguhuni merasa tak nyaman, benih kebaikan pergi menghilang berganti berbagai keburukan yang memenuhi ruangan.

Waspada kawan, mari kita lindungi rumah kita dari hal-hal yang demikian. Mari kita hiasi rumah kita dengan bacaan – bacaan Al-Qur’an kita. Membuatnya menjadi bercahaya sejuk dan nyaman bagi siapa saja. Biarpun mungkin rumah kita sempit dan buruk rupa namun jika Al-Qur’an bergema dan menjadi ruhnya, maka InsyaAllah ini akan menjadi sumber kebaikan hidup kita.

Yuk Ngaji di Rumah.
banner
Previous Post
Next Post

0 komentar:

Follow by Email

Popular Posts