Sabtu, 27 Januari 2018

Bryan Adam, Tak Lama Jumpa denganmu Namun Kesan Mendalam Mengharu Biru

Bryan Adam (27 Januari 1997- 24 Juni 2017)

Aku mengenal dan berinteraksi dengannya tak terlalu lama, hanya kurang lebih 4 bulan saja, namun keharuan dan kebanggaan berkesempatan mengenalnya sampai saat ini masih terasa. Ia mengenalkan diri bernama Briyan yang belakangan kuketahui nama lengkapnya Bryan Adam. 

Pertamakali berjumpa di sebuah masjid di lingkungan sekolah SMK N 2 Kota Bengkulu, waktu itu pertemuan kami dengan niat belajar mengaji, aku sebagai pembimbingnya.


Pada awalnya aku memang membimbing ngaji Alquran di Kampus Unihaz yang dikelola oleh UKM Rohimaz, Rohani Islam Mahasiswa Unihaz, ada program pembukaan pendaftaran kelompok ngaji yang disebar oleh pengurus Rohimaz melalui Facebook. Dari facebook inilah Bryan mendaftar untuk bergabung mengaji.

Kelompok pengajian di Unihaz sebenarnya dikhususkan untuk mahasiswa, karyawan serta dosen di lingkungan kampus Unihaz saja, sehingga pendaftaran Bryan yang masih berstatus pelajar SMK untuk ikut mengaji diluar perhitungan pengelola, sehingga Bryan diminta untuk mencari kawan yang berminat untuk mengaji juga agar bisa dikelompokkan dalam satu grup sama-sama pelajar.

Bryanpun ternyata menetapi usahanya mencari kawan mengaji, terkumpulah 3 orang sama-sama anak SMK N 2 Kota Bengkulu yang mau mengaji. Akhirnya jadwalpun ditetapkan dan aku pergi ke masjid di lingkungan SMK2 Kota Bengkulu untuk menemui Bryan dan kawan-kawannya itu. Itulah kali pertama aku bertemu dan berkenalan dengannya.

Bryan Adam, quote dari statusnya di fb : Bryan Adam

Bryan Adam lahir 27 Januari 1997 terpaut 10 tahun usianya denganku, ia memang kuanggap sebagai adik bagiku. Penampilanya cukup sederhana, enak diajak bicara dan bicaranya sedang-sedang saja namun hal-hal penting saja yang dipilihnya, pandangan matanya jernih dan dalam, seperti ada sesuatu yang terfikirkan di dasar hatinya, ia tampak berfikir sebelum bicara.

Kami mulai belajar mengaji sekitar akhir November 2016. Ia bicara, "Mas aku ingin belajar mengaji, mulai dari nol benar, karena aku ingin  bisa membaca Alquran, aku ingin berubah jadi lebih baik. Inginnya nanti pas puasa aku sudah bisa membaca Alquran dan ikut tadarusan," ungkapnya.

Niatnya ingin menjadi sosok yang lebih baik dan ingin bisa membaca Alquran saat Ramadhan membuatku terenyuh, tampak ketulusan dan keseriusan memancar dari tatapan matanya. Dan hal itu dibuktikanya saat proses belajar mengaji, terlihat dari semangatnya membaca dan melafadzkan huruf, upayanya mengenal dan menghafal huruf mulai dari dasar sekali, karena sebelumnya ia tak begitu mengenal huruf.

Saat mengaji ia mengungkapkan kalau dia sebelumnya jarang shalat, disuruh shalat oleh orang tua susah, belajar ngaji dulu waktu masih kecil menggunakan buku Iqra tapi tidak sampai lancar bisa membaca Alquran. 

Saat itu ia merasa ingin sekali bisa mengaji dan ingin tak tinggal shalat. Iapun banyak bertanya tentang keutamaan-keutamaan ibadah, tentang dosa dan larangan dalam Islam.

Setiap mengaji dia yang mengingatkan kawan-kawanya bahkan ia yang menjemput memakai motornya demi bisa belajar mengaji bersama. Menurutku jarak rumahnya dengan tempat kami mengaji cukup jauh. Kami mengaji di masjid SMKN 2 Kota Bengkulu sedangkan rumahnya di daerah dekat Pulau Bai.

Pulang sekolah sekitar pukul 14.30, ia pulang terlebih dahulu dan kembali lagi ke sekolah ba'da ashar sekitar pukul 16.00 untuk belajar mengaji sampai sekitar jam 17.30, belajar mengaji kadang hanya 1 jam tapi Bryan tetap mengupayakan datang belajar meski sebentar. Kami belajar mengaji menggunakan buku Tahsin Dewasa Jilid 1.

Setelah berjalan sekitar 2 bulan, karena kesibukanku antar jemput adek sekolah dan mulai berjualan Jambu kristal, akhirnya tempat belajar mengaji saya pindahan ke rumahku di Panorama, agar aku tidak terlalu sore mengajarnya karena harus jemput adek terlebih dahulu dan bisa sambil mengawasi jualanku. 

Jarak rumahnya dengan tempat tinggalku untuk mengaji ini tidak tambah dekat dari tempat belajar semula, bahkan sedikit agak menjauh, namun bukan halangan bagi Briyan untuk terus datang belajar. 

Proses belajar membaca Alquran terus berjalan dan perkembangan kemampuan membacanya terhitung cepat, sekitar tiga bulan berjalan buku tahsin jilid 1 sudah selesai, dan aku katakan, 

"Bryan kamu mulai saat ini sudah bisa baca Qur'an, karena dihalaman ini sudah sama bacaannya dengan di Alquran, hanya nanti masih perlu ada perbaikan untuk memfasihkannya, dan ada hukum-hukum tertentu yang belum dipelajari di sini, nanti kita lanjut di tahsin jilid 2, harus sering-sering berlatih dan praktik di Alquran," begitu kataku diakhir pelajaran waktu itu.
Bryan Adam saat mendaki puncak Kerinci, gambar dan quote diambil dari status facebooknya
Ternyata itu adalah terakhir kalinya aku bertemu dengan Bryan, cukup sedih jika aku kembali mengenangnya saat ini. Di hari lahirnya tanggal 27 Januari ini sengaja aku mengenangnya dengan menuliskan ini. Ada penyesalan kenapa aku tidak melanjutkan kembali pelajaranya.

Saat itu kesibukanku semakin meningkat, apalagi saat puasa menjelang, jadwal di bulan ramadhan memang berbeda dari sebelumnya. Dan ternyata beberapa kali Bryan datang kerumahku ingin bertemu dan belajar lagi, beberapakali shalat di masjid dekat tempat tinggalku, namun kami tidak pernah bertemu, mungkin kebetulan saja aku ada kesibukan ditempat lain dan tidak shalat di masjid dekat rumah.

Saat ramadhan memasuki pertengahan pekan ketiga masuk waktu libur puasa bagi sekolah-sekolah, aku mudik ke Lampung bersama adiku, berkumpul dan lebaran bersama keluarga. Kembali lagi ke Bengkulu saat jadwal masuk sekolah. Kabar mengejutkanpun datang, tak sengaja saat aku selesai shalat ashar di Masjid Baitul Atiq berjumpa dengan Egik kawan ngaji Bryan, dengan sedih ia mengatakan Bryan telah meninggal.

Sejenak aku hampir tak percaya, bahkan responkupun lambat, ada pedih di dalam dada yang tak mampu terungkapkan dengan kata. 

Egik bercerita bahwa Bryan meninggal saat malam takbiran, ia meninggal karena kecelakaan saat pulang dari salah satu rumah kerabatnya, waktu itu ia menjalankan tugas dari ibunya, disuruh  mengantar gulai masakan lebaran ke famili-familinya. Ia berdua dengan adiknya naik motor selepas maghrib dan takdir Allah sampai padanya, ada pengendara motor lain dari arah depan bergerak dengan kencang dan merekapun saling bertabrakan.

Meninggal saat malam lebaran diakhir ramadhan, ia telah menyempurnakan ibadah puasanya dan telah menjalankan apa yang diingininya yakni membaca Alquran dibulan ramadhan.

Sebagai seorang guru, tentu aku berharap kelak Bryan bisa mengajar Alqur'an pula, menjadi pembimbing dan pengajar kawan-kawan atau adik tingkatnya dalam mengaji, bahkan aku sempat berfirik kedepan ingin membentuk komunitas belajar Alquran dan berharap Bryan ini menjadi penggeraknya. Namun Allah SWT lebih mencintainya.

Inilah sesalku yang mendalam, aku merasa masih belum maksimal dalam mengajarinya, belajar ngaji saja hanya sebatas buku tahsin jilid 1. Ia ingin terus lanjut lagi belajarnya namun qadarallah tak pernah lagi bertemu. Maafkan aku Bryan yang tak ada sewaktu engkau mencariku dibulan ramadhan, yang tak ada saat engkau membutuhkan..

Kini engkau tinggal kenangan yang menyisakan keharuan mendalam. Aku bertemu dengan banyak orang dan bertemu dengan murid-murid. Hanya beberapa orang yang menyisakan kesan yang mendalam. Salah satunya Bryan.

Bryan Adam, Quote diambil dari status fb : Bryan Adam

Saat aku takziyah dan mengunjungi ayahnya, Ayah Briyan bercerita bahwa selama ramadhan Bryan sibuk di masjid, nyaris jarang pulang kerumah kecuali pas buka puasa dan keperluan tertentu saja, sering i'tikaf dan menginap di Masjid.

Dengan perasaan haru ia mengatakan bahwa dirinya sempat heran, "anak ini biasanya disuruh shalat aja sulit, tapi kini rajin sekali kemasjid dan bahkan azan, banyak membaca Alquran, orientasinya bukan lagi duniawi," ungkap Ayahnya. Briyanpun diceritakan sudah mendaftar dan diterima kuliah di kampus Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) di Jawa. Kampus yang berbeda jauh dari perkiraan orangtuanya.

Anak ini seperti berubah total, ia ingin kuliah dikampus islam dan tidak lagi tertarik kuliah di kampus umum, tidak tertarik dengan hal-hal keduniawian, ia ingin fokus mengejar akhirat. Suatu hal diluar kebiasaan anak seusianya. Ini yang membuat orang tuanya salut dan berbangga.

Untuk bisa masuk ke STID ia nekat berangkat sendiri untuk mengikuti tes di Jawa sedangkan ia belum pernah ke Jawa, tak ada yang memandu, kesasar dan baru sampai di lokasi tempat ujian saat sudah malam, namun itu tak membuatnya putus asa. 

Iapun tak memiliki bekal kemampuan bahasa Arab sedangkan itu yang menjadi salah satu hal yang diujikan. Menurut kisah ayahnya, Bryan tak mampu mengisi tes ujian bahasa arab dengan baik, namun saat ujian wawancara Bryan mengatakan semua keinginan kuatnya berislam dengan benar dan bisa bermanfaat untuk islam, sehingga mungkin keinginan kuatnya ini yang menyebabkan dia bisa diterima di STID. Namanya tercatat di daftar absen mahasiswa baru, namun ia telah menempati alam lain yang baru.

Aku sangat terharu mendengar semua kisah tentang Bryan dari ayahnya, kisah perbaikan dan perubahan dirinya yang luar biasa. Bryan telah menghadapi takdirnya dengan baik, meninggal dengan kondisi dalam kebaikan, dibulan terbaik bulan ramadhan, saat malam lebaran dalam menjalankan tugas orang tuanya.

Tersisa kini penyesalan terdalam bagiku, apakah aku akan berakhir dengan posisi terbaik seperti dirinya? 

Ya Allah ampunilah dosaku, perbaikilah amalku dan istiqomahkanku dalam kebaikan, serta wafatkanlah aku dalam kondisi khusnul khotimah..aamiin..

Untuk Bryan..Allhumaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fuanhu..aamiin ya Rabbal Alamin
banner
Previous Post
Next Post

4 komentar:

  1. Saya juga pernah mengalami apa yang Beni rasakan, ketika ada binaan yang sedang gigih untuk memperbaiki diri, ternyata belum sempat ia menyelesaikan studinya di kampus, Allah memanggilnya.

    “Sesungguhnya di antara kalian ada orang yang melakukan perbuatan ahli surga sehingga jarak antara dirinya dengan surga hanya tinggal sehasta akan tetapi catatan itu mendahuluinya, akhirnya dia melakukan perbuatan ahli neraka, ia pun masuk ke neraka”,

    hal ini menunjukkan bahwa tidak selamanya orang yang mengerjakan amalan ahli surga niatnya baik, karena orang tersebut meskipun tampak di hadapan manusia mengerjakan amalan penduduk surga namun memiliki niat yang buruk, dan niat buruk itu menguasai dirinya sehingga ia mendapatkan suu’ul khaatimah (akhir hayat yang buruk), nas’alullahas salaamah wal ‘aafiyah.

    Pelajaran berharga bagi kita, bahwa akhir kematian seseorang tidak bisa ditebak. semoga Bryan mendapatkan tempat terbaik, diampuni dosanya, dan diterima semua amal ibadahnya. Aaamin

    BalasHapus
  2. Masyaallah. Semoga Bryan mendapat tempat terbaik di sisi Allah.

    BalasHapus

Follow by Email

Popular Posts